2/20/2008

iRead: I, ROBOT



Judul: I, ROBOT
Pengarang: Isaac Asimov
Jenis: Science Fiction

Buku ini rada kuno sebetulnya, ditulis dan dipublikasikan pertama kali tahun 50an. Bagi penggemar dan pengikut sci-fi, baik film maupun buku, novel2 karya Asimov ini melahirkan teknologi2 yang dalam dunia sekarang, 50 tahun kemudian, masih belum terealisasi. Beda dengan sebagian film2 sci-fi model James Bond, di mana gadget2nya yg dikhayalkan 20-30+ tahun lalu sekarang sudah ada dan bukan barang aneh lagi. Tapi meski jauh melampaui laju kemajuan teknologi yang sebenarnya, dunia interaksi manusia dan robot karangan Asimov ini terkesan realistis dalam bukunya, menjadikan novel I, ROBOT ini bacaan yang menarik.

Ada beberapa kisah serupa cerpen dlm novel ini, yg berkisar pada filosofi 3 hukum robotik, yg disebut The Three Laws of Robotics. Isinya kira2 begini:
1. Robot tidak boleh mencederai manusia, atau, melalui akibat dari perbuatanya, membahayakan manusia.
2. Robot harus mengikuti perintah yang diberikan manusia, kecuali jika perintah tersebut bertentangan dengan hukum pertama.
3. Robot harus melindungi keberadaannya, selama perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan hukum pertama dan kedua.

Kisah2 di novel ini nyaris tidak ada yg mirip dengan film laga dengan judul sama yang dibintangi Will Smith, kecuali ada robot yg memiliki anomali, dan sebuah massa otak artificial intelligence, dan tiga hukum di atas. Setiap kisah berhubungan dengan Dr. Susan Calvin, seorang "robo-psychologist", yang memecahkan sejumlah misteri anomali tingkah laku robot yang diakibatkan oleh konflik antara hukum robotic dan situasi yang dihadapi robot.

Gabungan antara psikologi, filosofi, logika yang penuh imajinasi dan sedikit humor, bacaan ini menggelitik pikiran dan sekaligus menghibur. Tapi jangan percaya begitu saja, silahkan baca sendiri. ^_^

2/13/2008

sajak-sajak di musim hujan

Menghabiskan masa kecil di kota yang sering sekali hujan, saya belajar mencintai hujan, menikmati hujan, merendam kaki di kubangan-kubangan kecil yang ditinggalkan hujan, menghirup pekat bau tanah yang basah, bersama segenap bumi mereguk berkat segar langit, merindukan bisikannya yang menggemuruh, dan menimba inspirasi dari suasana melankoli yang kerap dibawanya...

YANG AKU BUKAN

seratus butir pil tak membuatku kebal
lagi-lagi mendung menggantung
muram bergayut, asa terpuruk
hujan terlanjur turun

jangan kata bercermin
lebih baik transparan
aku tak ingin pulang
biar kutunggu musim gugur
biar kutemani bunga-bunga layu

seperti apakah janji?
pada siapa kutagih?
kata-kataku menguap bersama embun
langit ibarat wajah tanpa ekspresi

(kneedeepville, oktober 2003)

===============================

RECIPROCITY

dalam kereta argo gede
bandung-jakarta
melintas lekas melalui segala
yang terlalu familiar
tak perlu kuceritakan
sawah, bebek, rumah-rumah kumuh
deretan pohon pisang dan kebun singkong
anak-anak main bola di petak tanah kosong
semua begitu biasa
semua jalan untuk hari ini
hanya aku yang sibuk sendiri
meraba hidup di luar gerbong eksekutif
yang seperti berlari meninggalkanku
jangankan bersapa
sedang lambaian tanganku
saja
tak terlihat

(AG, 11 Januari 2004)

=============

CEMBURU

mungkin mungil pinggulnya
atau manis senyumnya
mungkin mulus wajahnya
atau asik gayanya
mungkin semua
yang tidak aku punya
mungkin aku berkaca
pada yang aku bukan
mungkin kau melihat
siapa aku mestinya

(lonely planet, 16/1/04)

===================

LADANG PEREMPUAN TANAH

gerak langkahku menapak menggerus tanah
aku ingin kamu semua melihat
ini jejakku, di sini berdiri kokoh
di atas telapak kaki yang keras kapalan
tak ada sorak tak ada bendera berarak
hanya perempuan menghirup wangi bumi di bawahnya
jari kaki berpeluk nyaman dengan tanah basah
seperti kasut buatan alam
melihat ke bawah aku makin yakin
di sini ladang kugarap
di sini benih kutanam
semata memenuhi rencana sang pencipta
yang menuntunku ke sini

(ec, febuari '04)

======================

BACA

kubuka mata
kucari kata
semesta bungkam
hanya suaraku
mengeja dalam hati
menyusun makna
merengguk arti
kutata dalam pikiran
sebuah perjalanan
menyeruak batas
waktu dan ruang
huruf-huruf berlari
membentuk imaji
warna warni dimensi
tak tersentuh
hawa dan raga
hanya lekat
dalam ingatan


BUKU

ini buku bacaan
tempatku menyelam
tempatku berlari
tempatku belajar
memberi arti
hidup lebih dalam
dari batas hari
dari batas bilik

ini buku dunia
tempatku berguru
pada orang-orang
yang sudah jauh
berjalan di depanku


KOREOGRAFI

mungkin orang pikir aku gila
melonjak berjingkrak tanpa irama
yang tak mereka dengar ternyata ada
walau hanya dalam kepala
bingar sebuah lagu siska
dalam gerak hidup bijana
dari cangkang hingga isinya
sempurna tangis dan tawanya


INI JAMU

ini jamu untuk haid
ini jamu untuk jerawat
ini jamu mules-mules
ini jamu biar langsing
ini jamu semangat di ranjang

ini jamu untuk anu
ini jamu biar itu
ini jamu supaya gini
ini jamu karena perlu

ini jamu segala jamu
ini jamu untuk aku
supaya gini biar ngga gitu
ini aku minum jamu
karena itu aku begini

(el cajon, spring 2004)

==============================

SUPER

kisah di langit seorang manusia super melintas
ternganga dunia tempatnya mentas
serba ini serba itu serba sempurna
wahai dewi, benarkah cacatmu tak ada?

selagi ia lewat di samping awan-awanku
terpaksa tertunduk tak kuat mataku silau
lebih baik kupandang bayangannya di tanah
terkekeh mengingat aku tak sendiri

benarkah manusia tak ada yang sempurna?
mungkin Gusti Pencipta Super Adil menimbang
untuk setiap orang super jelek super jahat super bodo
yang membebani manusia lain dengan kekurangannya
harus ada yang ngimbangi dengan kesupersegalabaikkannya
supaya dunia imbang layaknya ibu alam

mungkin betul mungkin salah
perlukah aku meroket ke langit seperti dia?
kupandang tanah di bawah kakiku
yang kukorek-korek dengan ranting super kecil
super nyaman sentosa tempatku berada
dasar takdirku bukan manusia super

(pagi2 tanpa super bihun, 8 April 2004)

2/04/2008

Words2Ponder: from TAO TE CHING - Lao Tzu


The supreme good is like water,
which nourishes all things without trying to.
It is content with the low places that people disdain.
Thus it is like the Tao.


In dwelling, live close to the ground.
In thinking, keep to the simple.
In conflict, be fair and generous.
In governing, don't try to control.
In work, do what you enjoy.
In family life, be completely present.

When you are content to be simply yourself
and don't compare or compete,
everybody will respect you.

(Terjemahan bagian dari Tao Te Ching di atas diambil dari buku "the soothing soak, a bathtub reader", sebuah kumpulan cerita, puisi, essay, dan kata-kata bijak untuk dibaca di kamar mandi.)

imho: Obsesi Kita Pada Kulit Putih

Sekitar 50 tahun yang lalu, sepasang peneliti Kenneth dan Mamie Clark melakukan sebuah percobaan di Amerika, yang dikenal dengan “The Doll Experiment”. Dalam percobaan ini para peneliti tersebut menemukan bahwa anak-anak kulit hitam lebih senang bermain dengan boneka berwarna kulit putih, dengan alasan yang putih itu bersih dan baik, sementara yang berkulit gelap itu jelek dan kotor. Anak-anak tersebut menyadari warna kulit mereka sendiri. Kennet dan Mamie menyimpulkan hasil percobaan mereka sebagai bukti pengaruh rasisme dan stigmatisasi pada anak-anak. Pada masa ini rasisme dan pemisahan yang menempatkan masyarakat kulit hitam sebagai warga negara kelas dua di bawah kulit putih masih menjadi hal yang umum.

Kira2 50 tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, seorang gadis remaja Kiri Davis melakukan percobaan yang sama dan merekam hasilnya dalam film yang berjudul “A Girl Like Me”. Alangkah anehnya, ternyata di kala zaman sudah berubah, pembauran dan persamaan hak sudah menjadi kenyataan sehari2 di Amerika, ternyata Kiri memperoleh hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh pasangan Clarks. Mengapa sesudah sekian banyak perubahan, orang kulit hitam masih menganggap putih itu lebih baik?

Ada apa dengan kulit putih?

Di Indonesia, obsesi kita pada kulit putih juga sangat kentara. Terutama perempuan, selalu dipandang lebih menarik jika berkulit terang. Matahari jadi musuh utama kebanyakan kaum perempuan, karena tanpa perlindungan, matahari dapat menggelapkan warna kulit. Iklan2 produk kosmetik pemutih kulit begitu gencar mengisi media, dengan pesan2 bahwa gadis2 berkulit putih tidak hanya lebih cantik, tapi juga lebih sukses dan lebih cepat dapat jodoh. Perusahaan2 produsen kosmetik pun berlomba2 mengeluarkan produk2 pemutih baru. Bahkan rasanya sulit mendapatkan produk kecantikan, baik krim, lotion, atau sabun mandi yang tidak menggunakan zat pemutih kulit. Entah siapa yang memulai duluan, kampanye pemutihan kulit ini sudah begitu jauh menjadi bagian kehidupan perempuan Indonesia.

Memangnya kenapa kalau tidak putih? Sebagian orang ternyata minder hanya karena kulitnya tidak putih. Padahal kaitan warna kulit dengan kemampuan seseorang kan nyaris tidak ada. Tapi perempuan tetap merasa kurang menarik dengan kulit yang gelap. Ada yang bilang, kalau kulit gelap itu seperti orang yang kerjanya di ladang, petani, berarti miskin. Apa salahnya jadi petani? Benar2 membingungkan.

Apa kata orang kulit putih? Di Barat sana, orang kulit putih sering terlihat berlomba2 mencoklatkan kulit di bawah sinar matahari, yang di sini menjadi musuh utama. Menurut mereka, warna kulit kecoklatan itulah yang menarik dari segi kecantikan, maka produk2 pencoklat kulit (tanning lotion) pun laku di kalangan itu. Di Indonesia, yang putih ingin tetap putih.

Kalau dilihat dari segi praktisnya, kenapa kulit putih lebih baik? Tidak ada kelebihannya sebenarnya. Kulit memang mempunyai pigmen yang lebih bermacam2, beda halnya dengan gigi yang memang lebih baik putih daripada hitam. Tapi tetap saja, sebagian penduduk bumi ini lebih senang kulit putih daripada kulit yang lebih gelap.

Bagian dari evolusi?

Saya pikir, seperti layaknya di kaum kulit hitam di Amerika yang melalui bergenerasi2 di bawah perbudakan dan diskriminasi kaum kulit putih, kita pun sebagai bangsa pernah dijajah kaum kulit putih hingga berabad-abad. Mungkin, dari sekian generasi yang melalui kehidupan tertindas di bawah kulit putih ini kemudian ada semacam sifat inferior yang tertanam dari generasi ke generasi melalui sikap dan tutur kata, semakin dalam hingga ke tingkat gen, sehingga ketika zaman sudah berubah, rasa inferior terhadap kulit putih itu tetap ada. Mungkinkah?

Teori saya ini bukan tidak mendasar, sebab sebuah penelitian di University of Newcastle, UK menunjukkan adanya hubungan antara evolusi dan kesukaan kita pada warna-warna tertentu. Menurut para peneliti itu, kesukaan perempuan pada warna2 merah dan pink di sebabkan karena sepanjang masa evolusi manusia, perempuan lebih banyak bekerja sebagai pengumpul makanan dan merawat keluarga, sehingga menumbuhkan kesukaan atau perhatian lebih pada warna2 merah yang diasosiasikan pada warna2 buah yang matang dan wajah2 yang sehat. Sedangkan untuk laki2, warna menjadi kurang penting, sebab sebagai pemburu mereka hanya perlu memperhatikan sesuatu yang gelap untuk ditembak. (Lihat Reader’s Digest Asia January 2008).

Nah, kalau seandainya benar preferensi kita pada warna2 tertentu itu adalah imprint hasil evolusi, jadi sah2 saja kah kita memuja kulit putih? Silahkan Anda jawab sendiri.