Seorang ibu dari seorang pelajar SMK di daerah Cileungsi mengeluh. Guru kelas anaknya baru saja mengadakan razia telepon genggam. Menurut si ibu, berdasarkan cerita anaknya, 2 karung hp berhasil dikumpulkan. Anehnya, untuk memperoleh hpnya kembali, setiap siswa harus mengeluarkan uang Rp 20.000 yang harus disetorkan kepada guru tersebut. Bisa dibayangkan banyaknya uang yang diperoleh guru tersebut. Menurut si ibu, sang guru mengancam akan mempersulit siswa yang ortunya menantang kebijakan tersebut. Sang ibu mengeluh karena hp tersebut sangat penting untuk berkomunikasi dengan sang anak yang rumahnya jauh sehingga sering butuh dijemput jika kesulitan menemukan kendaraan umum. Dengan terpaksa hpnya ditebus oleh si ibu yang kerjanya sehari-hari sebagai pembantu rumah tangga.
Kalau dipikir-pikir, apa sih tujuan razia hp tersebut? Saya bisa mengerti kalau siswa dilarang menggunakan hp di kelas. Saya juga bisa mengerti kalau hp yang ditemukan memiliki gambar/video yang mengandung unsur seksual/kekerasan/dll lantas disita oleh pihak sekolah. Tapi untuk mengambil hp milik siswa, kemudian menarik biaya pengembalian hp tersebut saya pikir ini mirip pemerasan a la preman. Apakah tujuannya untuk membuat para siswa jera membawa hp ke sekolah? Jelas-jelas hp itu penting untuk sebagian siswa, bukan semata-mata mainan. Kalau memang dilarang digunakan di dalam kelas, kenapa tidak disimpan saja selama jam pelajaran di ruang guru misalnya, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Saya tidak menutup kemungkinan adanya unsur hiperbola dari cerita yang disampaikan oleh ibu ini, tapi tetap saja, saya yakin ada unsur kebenarannya. Saya pikir aneh sekali cara berpikir guru dan sekolah ini. Pakai mengancam lagi, akan mempersulit siswa jika orang tua memprotes kebijakannya. Diperlakukan dengan cara preman seperti ini, tidaklah heran begitu banyak preman di jalanan, bahkan di berbagai instansi pemerintahan. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari...
No comments:
Post a Comment