5/30/2008

The U-turners!

Awalnya dari salah satu stasiun radio yang menyebut pendengarnya U-lovers, Motioners, lalu saya jadi teringat sebutan putih-abu2ers buat anak SMU. Di tikungan putar balik, pikiran saya beralih ke seorang anak muda (laki2) yang mengayun2kan tangannya seperti polantas. Aha! Ada U-turner di sini! Begitu melihat saya menyalakan lampu belok (turning signal), dia langsung berusaha mengakomodasi niat saya itu dan berusaha menyetop kendaraan dari arah yang berlawanan (dengan berdiri di tengah jalan), supaya saya bisa putar balik. Sebuah truk melambat dan akhirnya berhenti di depannya, saya pun maju. Usahanya saya hargai dengan memberikan koin 500an yg sengaja saya sediakan di mobil untuk orang2 seperti ini.

Pengatur lalu-lintas tidak resmi ini banyak bertebaran di mana2. Tidak hanya di tikungan putar balik, tapi juga di persimpangan, terowongan, dan parkiran liar. Kehadiran mereka kadang membantu, kadang menyusahkan, tergantung niat dan efisiensi mereka bekerja. Kadang ada yg dengan serius dan berupaya sistematis melancarkan lalu lintas. Jika kebetulan tidak diberi uang, lambaian tangan sopir akan dibalas dengan anggukan dan tangan terangkat ramah. Tapi ada juga yang malah bikin macet, terutama jika para pengatur tidak kompak dengan satu sama lain.

Pada intinya mereka mencari kesempatan memperoleh sedikit uang di tengah kerumitan belantara lalu lintas kota2 besar di Indonesia, di mana budaya mengalah sudah jarang dipraktekkan oleh pengemudi kendaraan bermotor. Yang ada adalah budaya nyodok. Untuk pengemudi penakut seperti saya, biasanya saya harus menunggu cukup lama di persimpangan sampai ada pengemudi yang cukup ramah dan mau memberi jalan. Pernah saya menerapkan teori: jika kita bersikap ramah pada pengemudi lain (dengan membuka jendela, melambaikan tangan dan tersenyum), pengemudi lain jg akan mau mengalah untuk kita. Entah ini sekedar teori tinggal teori, atau memang senyum saya lebih mengarah ke marah daripada ramah, usaha saya tebar pesona tidak membuahkan hasil, kecuali dibalas senyuman dan kedipan dari sopir truk yang terus maju tanpa memberi jalan.

Maka bersyukur juga saya dengan adanya para pengatur lalu lintas tak resmi ini. Dengan sedikit koordinasi tangan, mata dan kaki, bisalah saya berputar balik sambil menyerahkan gopean atau seribuan ke tangannya sebelum saya melaju.

Kalau para pengemudi kita semua tiba2 berubah santun dan patuh pada peraturan lalu lintas, tentunya anak2 ini tidak akan perlu berada di jalan. Mereka tidak perlu menghirup debu dan asap knalpot di bawah terik matahari demi sejumlah uang yang mungkin tak bertahan lama di saku mereka. Kalau para pengemudi kita santun dan patuh peraturan lalu lintas, anak2 ini tidak di jalan, bukan hanya karena tidak ada kerjaan di jalan, tapi karena mereka mungkin akan sibuk melakukan hal2 lain yang lebih positif, bermanfaat, dan tidak membahayakan kesehatan mereka. Mungkin pada sekolah, mungkin pada punya pekerjaan yang lebih baik. Karena saya pikir perilaku kita di jalan tentunya tidak jauh beda dengan perilaku kita sehari2. Sejauh mana kita menghormati peraturan?

Yah, mungkin kalau hari ini ketemu dengan para U-turners ini, mari kita panjatkan sepotong doa buat mereka, atau setidaknya harapan positif buat mereka. Entah bagaimana, mudah2an suatu hari mereka2 ini punya kehidupan yang lebih baik.

5/14/2008

Tips: Let the children know...

Maraknya kasus2 pelecehan seksual terhadap anak2 semakin mengkhawatirkan. Saya sebagai orang tua menjadi was2, dan saya rasa sudah waktunya orang tua membuka diri dan mempersiapkan anak2 untuk menghadapi situasi2 seperti ini.

Sepanjang hidup saya, saya sudah menemukan setidaknya 5 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Seperti halnya kasus2 yg terungkap di media massa, saya yakin kejadian yang belum terungkap sangat banyak, karena anak tidak melapor, atau orang tua sengaja menutup2i.

Pada sebagian besar kasus yang saya temukan, anak yang menjadi korban tidak mengetahui bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang wajar. Sebagian besar perlakuan orang dewasa terhadap anak2 ini memang tidak cukup kentara, seperti pelukan dan ciuman, sehingga tidak jelas2 merupakan pengalaman yang negatif untuk si anak. Si anak mungkin risih, karena yang memeluk dan mencium bukanlah anggota keluarga, misalnya guru, atau orang yang tidak dikenal.

Salah satu kasus terjadi di sebuah sekolah. Ada seorang guru yang cukup disukai anak2 murid. Suatu ketika guru tersebut mulai mendekati anak2 perempuan. Dia memanfaatkan kesempatan ketika ruangan sepi tanpa orang lain selain dirinya dan anak perempuan tsb. Pada bbrp kesempatan dia menghampiri anak tersebut, memeluk dan mencium sambil mengatakan bahwa anak itu anak yang baik dan cantik, lalu membiarkan anak itu pergi. Pada kesempatan lain, mungkin dia bertambah berani, guru tsb mulai menyentuh bagian2 tubuh tertentu. Baru saat itulah si anak merasa tidak beres dan memberitahukan orang tuanya. Berita ini pun membuat seisi sekolah gempar. Satu orang anak lain muncul dan melaporkan telah memperoleh perlakuan serupa dari pak guru tsb. Beberapa anak lain yang sempat dipeluk dan dicium sang guru pun tersadar, mungkin pak guru itu berencana melakukan hal yang sama thd mereka. Sang guru dikeluarkan dari sekolah.

Sebagian anak akan memberitahukan ortunya jika bagian2 tubuh tertentu dipegang orang, tapi bagaimana jika orang yang melakukan hal tersebut orang yang dikenalnya, yang dihormatinya, atau yang ditakutinya? Dan bagaimana jika orang tersebut membujuk si anak untuk merahasiakan hal tsb? Seperti contoh guru di atas, sebagian anak bahkan merasa guru tersebut benar2 menyayangi mereka karena dia memperlakukan mereka secara istimewa. Jika sudah merasa dekat, kemungkinan anak untuk menuruti kemauannya sangat besar!

Pada kasus lain, seorang anak perempuan berusia 7 tahun suatu hari mengeluh kepada ibunya, mengatakan kemaluannya sakit ketika buang air kecil. Ketika ditanya kenapa, anak menjawab, kemaluannya sakit sejak dipegang oleh pengasuhnya. Sang ibu pun terkejut dan seribu pertanyaan muncul di kepalanya. Sudah sejak kapan dia berani begitu? Kenapa anakku ga pernah bilang? Sudah sejauh apa dia berani menyentuh anak saya? Apakah anakku akan baik2 saja? Begitu ditanya, si pengasuh mengatakan dia gemas pada anak itu.

Orang tua jaman dulu sangat tabu membicarakan hal2 seputar seks dengan anak2, padahal untuk dapat melindungi diri dari kejadian2 seperti di atas diperlukan pengetahuan yang cukup tentang batas2 normal kontak fisik antara anak dan orang dewasa maupun anak lain. Berhubung kejadian seperti ini selalu terjadi di saat orang tuanya tidak ada, maka pertahanan anak yang pertama adalah dirinya sendiri. Karena itu saya rasa penting untuk dilakukan orang tua:

1. Ajak anak anda membicarakan bagian2 tubuhnya sejak ia mulai mengenal laki2 dan perempuan. Apa yang beda antara laki2 dan perempuan.

2. Dengan menggunakan istilah yang baik, tekankan mana bagian tubuh yang sifatnya pribadi, yang tidak kita perlihatkan kepada orang lain, dan tidak boleh orang lain perlihatkan miliknya kepada kita.

3. Bicarakan juga tentang arti kasih sayang. Apa itu kasih sayang, dan bagaimana menunjukkan kasih sayang dengan sesama, misalnya dengan saling menolong, memberi perhatian yang wajar, dengan memberi berbagai contoh hal2 yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga sebagai tanda kasih sayang antara satu sama lain. Kontak fisik yang wajar seperti rangkulan, belaian ciuman di pipi, di kening, atau di tangan ayah atau ibu juga bentuk kasih sayang. Sebutkan orang2 di luar keluarga yang juga mengasihi dia, seperti kakek, nenek, mungkin juga om dan tante, dan teman2.

4. Terakhir mulailah membicarakan hal2 yang dilarang. Bagian2 tubuhnya yang pribadi tadi, tidak boleh disentuh oleh orang lain, kecuali ayah ibu, atau dokter saat memeriksa di depan ayah atau ibu. Jika ada orang yang mau melihat atau menyentuh, katakan 'jangan' dan segera menjauh dari orang tersebut. Jika ada orang yang merangkul, memeluk, bahkan mencium dan dia merasa risih atau tidak senang, segeralah menjauh. Ajar anak untuk percaya instingnya. Segeralah beritahukan kepada ayah ibu. Pesan yang terakhir ini perlu diulang2 sesekali agar anak tidak lupa.

5. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anak, jangan menyalahkan dia. Kebanyakan anak tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, dan ketika sadar kejadian tersebut merupakan aib, dia sudah menanggung malu dengan sendirinya. Inilah luka yang lebih dalam dan sulit sembuh yang ditinggalkan oleh orang yang melecehkannya. Yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah meyakinkan bahwa kejadian yang menimpa dirinya sama sekali bukan salahnya, tetapi salah orang yang melakukannya. Dengan demikian mudah2an anak akan menyadari posisinya sebagai korban.

6. Jika anda menemukan orang yang tidak beres, pernah melakukan pelecehan atau hal2 yang menjurus ke arah pelecehan seksual, atau tidak wajar terhadap anak2, beritahukan teman2 anda agar waspada dan menjauhkan anak2 dari orang tersebut.

7. Mungkin ini pendapat pribadi saya saja, tapi saya rasa kurang wajar jika anak2 perempuan mengenakan pakaian2 seksi seperti yang modelnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang... yah, kurang sopan. Beberapa kali saya melihat lomba fashion show di mal2, anak2 perempuan yang mungil dan polos didandani seperti wts hollywood boulevard, lengkap dengan make-up tebal, rok super mini, sepatu platform berwarna neon, dan fish-net stocking. Mengerikan! Ini bukan soal selera saya rasa, tapi soal kewajaran. Entah apa yang dipikirkan ibu2 mereka, yang jelas saya tidak dapat membayangkan apa yang dipikirkan orang2 dengan kelainan seksual pedophil, yang saya yakin ada di antara penonton.

Untuk kebanyakan korban pelecehan seksual anak2, luka yang tertinggal sangat membekas. Tidak jarang luka tersebut ikut membentuk karakter anak di masa pertumbuhan, mengakibatkan masalah psikologis yang dapat mempengaruhi masa depannya. Karena itu adalah tugas kita sebagai orang tua untuk melindungi dan memastikan anak2 tumbuh sebagaimana mestinya.

Mudah2an tips2 di atas, meski mungkin banyak kekurangannya, dapat membantu orang tua melindungi anak dari pelecehan seksual.

5/09/2008

Puisi: The Tao of Love


aku ingin cinta kita seperti mata air mengalir
mencari ruang kosong tempat-tempat rendah
lembut mengelus celah bebatuan
sejuk direguk makhluk memberi hidup

seperti cawan meluap penuh mengisi
dalam ceruk tenang menggenang
berwajah refleksi murni cermin langit
tanpa hiruk pikuk impian semu

-siska
(cimanggis, 9 Mei 2008)