3/06/2008

Wanted: Custom Made School

Gara2 seorang rekan blogger mengajak ikut brain-storming tentang pendidikan alternatif untuk masyarakat yang dapat membantu memecahkan masalah ekonomi sosial skala lokal (tengok: http://akhmadmurtajib.com/2008/03/05/sekolah-¨mengembalikan-ikan-ikan-yang-hilang-itu¨), saya jadi teringat sepotong ide saya yg saya posting di milis irianjaya sekitar 7 tahun lalu. Entah kenapa saat itu tidak ada yg langsung menanggapi, baik positif maupun negatif. Tapi selang bertahun2 kemudian ada yg tertarik dan menanyakan kapan ide tsb terealisasi. Ide tsb saya tuangkan sbb:

saya punya ide untuk bikin sekolah yg unik di Papua, tujuannya bukan sekadar memberantas buta huruf, tapi juga menghasilkan generasi muda yang kritis dalam berpikir, dan punya rasa kecintaan yang dalam akan masyarakat dan budayanya. Dengan demikian harapan saya generasi yg baru ini akan punya cukup karakter dan kemampuan untuk memajukan bangsanya sendiri, dan tidak gampang diadudomba oleh pihak2 lain.
Ide sekolah ini sudah dicetuskan dan direalisasikan sebelumnya di Sumatra Utara, di mana murid2nya ngga melulu dicekoki kurikulum buta dari pemerintah pusat, tapi juga dilibatkan dlm diskusi2 kreatif yg menghubungkan ilmu pengetahuan dan keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitarnya. Ide ini juga yang menjadi wujud
kerinduan saya untuk membantu masyarakat Papua, terutama setelah baca berita ELSHAM ttg kurangnya guru di Manokwari.


Saya pikir sudah waktunya pendidikan a la Diknas dikaji kembali. Meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia dibarengi masalah ekonomi sosial dan lingkungan yang semakin rumit menunjukkan bahwa pendidikan negeri ini tidaklah menghasilkan sumber daya manusia yang siap pakai, cukup jeli melihat maupun menyelesaikan tantangan masalah di sekitarnya. Pendidikan formal memang memberi ilmu, tapi ilmu itu dipaket sedemikian rupa hingga tidak terlihat korelasinya dengan kehidupan sehari2 masyarakat. Akibatnya pertumbuhan pikiran terjebak pada pola pikir yang sama.

Seandainya pendidikan dasar dan menengah saya berkorelasi dengan sekitar saya, tentunya saya akan lebih mengerti masalah yg dihadapi masyarakat Papua saat ini, dan dari sekian angkatan saya, akan banyak yg dapat membantu memecahkan masalah2 di sana, bukan hanya karena mereka bisa, tapi juga karena mereka peduli.

Cita2 saya membuat sekolah itu mudah2an bisa tercapai suatu saat di masa depan. Sementara ini saya cari ilmu dulu, ikut brainstorming dengan orang2 yg punya ide serupa.

No comments: