Sekitar 50 tahun yang lalu, sepasang peneliti Kenneth dan Mamie Clark melakukan sebuah percobaan di Amerika, yang dikenal dengan “The Doll Experiment”. Dalam percobaan ini para peneliti tersebut menemukan bahwa anak-anak kulit hitam lebih senang bermain dengan boneka berwarna kulit putih, dengan alasan yang putih itu bersih dan baik, sementara yang berkulit gelap itu jelek dan kotor. Anak-anak tersebut menyadari warna kulit mereka sendiri. Kennet dan Mamie menyimpulkan hasil percobaan mereka sebagai bukti pengaruh rasisme dan stigmatisasi pada anak-anak. Pada masa ini rasisme dan pemisahan yang menempatkan masyarakat kulit hitam sebagai warga negara kelas dua di bawah kulit putih masih menjadi hal yang umum.
Kira2 50 tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, seorang gadis remaja Kiri Davis melakukan percobaan yang sama dan merekam hasilnya dalam film yang berjudul “A Girl Like Me”. Alangkah anehnya, ternyata di kala zaman sudah berubah, pembauran dan persamaan hak sudah menjadi kenyataan sehari2 di Amerika, ternyata Kiri memperoleh hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh pasangan Clarks. Mengapa sesudah sekian banyak perubahan, orang kulit hitam masih menganggap putih itu lebih baik?
Ada apa dengan kulit putih?
Di Indonesia, obsesi kita pada kulit putih juga sangat kentara. Terutama perempuan, selalu dipandang lebih menarik jika berkulit terang. Matahari jadi musuh utama kebanyakan kaum perempuan, karena tanpa perlindungan, matahari dapat menggelapkan warna kulit. Iklan2 produk kosmetik pemutih kulit begitu gencar mengisi media, dengan pesan2 bahwa gadis2 berkulit putih tidak hanya lebih cantik, tapi juga lebih sukses dan lebih cepat dapat jodoh. Perusahaan2 produsen kosmetik pun berlomba2 mengeluarkan produk2 pemutih baru. Bahkan rasanya sulit mendapatkan produk kecantikan, baik krim, lotion, atau sabun mandi yang tidak menggunakan zat pemutih kulit. Entah siapa yang memulai duluan, kampanye pemutihan kulit ini sudah begitu jauh menjadi bagian kehidupan perempuan Indonesia.
Memangnya kenapa kalau tidak putih? Sebagian orang ternyata minder hanya karena kulitnya tidak putih. Padahal kaitan warna kulit dengan kemampuan seseorang kan nyaris tidak ada. Tapi perempuan tetap merasa kurang menarik dengan kulit yang gelap. Ada yang bilang, kalau kulit gelap itu seperti orang yang kerjanya di ladang, petani, berarti miskin. Apa salahnya jadi petani? Benar2 membingungkan.
Apa kata orang kulit putih? Di Barat sana, orang kulit putih sering terlihat berlomba2 mencoklatkan kulit di bawah sinar matahari, yang di sini menjadi musuh utama. Menurut mereka, warna kulit kecoklatan itulah yang menarik dari segi kecantikan, maka produk2 pencoklat kulit (tanning lotion) pun laku di kalangan itu. Di Indonesia, yang putih ingin tetap putih.
Kalau dilihat dari segi praktisnya, kenapa kulit putih lebih baik? Tidak ada kelebihannya sebenarnya. Kulit memang mempunyai pigmen yang lebih bermacam2, beda halnya dengan gigi yang memang lebih baik putih daripada hitam. Tapi tetap saja, sebagian penduduk bumi ini lebih senang kulit putih daripada kulit yang lebih gelap.
Bagian dari evolusi?
Saya pikir, seperti layaknya di kaum kulit hitam di Amerika yang melalui bergenerasi2 di bawah perbudakan dan diskriminasi kaum kulit putih, kita pun sebagai bangsa pernah dijajah kaum kulit putih hingga berabad-abad. Mungkin, dari sekian generasi yang melalui kehidupan tertindas di bawah kulit putih ini kemudian ada semacam sifat inferior yang tertanam dari generasi ke generasi melalui sikap dan tutur kata, semakin dalam hingga ke tingkat gen, sehingga ketika zaman sudah berubah, rasa inferior terhadap kulit putih itu tetap ada. Mungkinkah?
Teori saya ini bukan tidak mendasar, sebab sebuah penelitian di University of Newcastle, UK menunjukkan adanya hubungan antara evolusi dan kesukaan kita pada warna-warna tertentu. Menurut para peneliti itu, kesukaan perempuan pada warna2 merah dan pink di sebabkan karena sepanjang masa evolusi manusia, perempuan lebih banyak bekerja sebagai pengumpul makanan dan merawat keluarga, sehingga menumbuhkan kesukaan atau perhatian lebih pada warna2 merah yang diasosiasikan pada warna2 buah yang matang dan wajah2 yang sehat. Sedangkan untuk laki2, warna menjadi kurang penting, sebab sebagai pemburu mereka hanya perlu memperhatikan sesuatu yang gelap untuk ditembak. (Lihat Reader’s Digest Asia January 2008).
Nah, kalau seandainya benar preferensi kita pada warna2 tertentu itu adalah imprint hasil evolusi, jadi sah2 saja kah kita memuja kulit putih? Silahkan Anda jawab sendiri.
No comments:
Post a Comment