1/31/2008

iREAD: Angin pun Berbisik



Judul: Angin pun Berbisik, Kumpulan Sajak Cinta
Penulis: Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah, Zeffa Yurihana
Jenis: Antologi puisi

Ada dua hal yang unik dari buku ini. Pertama, salah satu penulisnya, yakni Irwan Dwi Kustanto, adalah seorang tunanetra. Kedua, ketiga penulis buku ini datang dari satu keluarga yang tinggal di dua kota berbeda, dan seringkali berkomunikasi melalui puisi. Buku ini diluncurkan kira2 seminggu yang lalu pada tanggal 23 Januari 2008, dalam sebuah acara di Gedung Kesenian Jakarta. Hasil penjualan buku ini sebagian akan diserahkan untuk membantu program 1000buku yang digalangkan oleh Mitranetra, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan tunanetra di Indonesia (lihat www.mitranitra.net).

Saya tidak ingin menilai dari segi sastranya secara teknis, karena saya sendiri hanya penyair amatir yang menulis untuk diri sendiri. Tapi bagaimana puisi2 di sini menyentuh saya, dan mungkin menyentuh Anda juga jika Anda membacanya, bukan dari kata2nya, tapi perasaan yang menciptakan kata2 tersebut. Antara anggota keluarga cinta itu mengalir, dan dari dunia yang gelap, cinta itu berwarna.


Tapi jangan percaya begitu saja, silahkan beli dan baca sendiri. ^_^

Ketik REG Hati-hati Iklan TV di Jam Tayang untuk Anak

Masa jeda acara televisi seringkali diisi dengan iklan yang ditujukan pada target pemirsa program televisi tersebut. Makanya iklan susu, snack, dan jajanan lain seringkali mengisi masa jeda tayangan kartun yang ditujukan pada anak2. Sayangnya, entah kenapa, sekarang makin banyak iklan2 lain yang seharusnya tidak ditujukan pada anak2 ikut mengisi jeda antara tayangan kartun tersebut. Iklan2 yang akhir2 ini makin marak adalah yang terutama menawarkan jasa lewat sms, seperti ramalan, chat&date, ngobrol dgn selebriti, humor, pesan mesra, dan entah apa lagi. Service ini tidak murah, yang bilang "murah" tarifnya Rp1000/sms, atau sekitar 4kali sms biasa. Yg lain, dengan tulisan super kecil hampir tak terbaca, menyebutkan tarifnya Rp2000/sms, atau
8 kali sms biasa, bahkan ada yang sampai Rp5000/sms! Selain itu, service sms semacam ini tidak pantas ditawarkan kepada anak2, tapi stasiun televisi tampaknya tidak peduli, karena fokusnya tidak jauh dari Rp, tidak jauh beda dengan para penjual jasa sms yang hanya ingin meraup keuntungan sebesar2nya dari setiap insan pemilik hp.

HP sudah bukan barang aneh buat anak SD jaman sekarang, dari model hp, lagu2 ringtones, hingga games, sudah jadi trend di kalangan siswa, sehingga terlepas dari faktor kebutuhan, anak2 jadi pengguna hp yang lebih banyak dikendalikan oleh faktor ikut2an. Memang hp jadi alat bantu yang sangat berguna karena memampukan anak untuk mengontak orang tua setiap saat, tapi tanpa pengendalian dan pengawasan yang baik, hp bisa jadi masalah besar untuk dompet. Dari download lagu, games, berbagai sms hiburan, semua jadi sumber penghasilan bagi penyedia jasa hp yang melihat celah bisnis dari keinginan orang untuk meng-upgrade hpnya dari alat komunikasi menjadi alat hiburan dan identitas diri. Sayangnya, anak2 pun terbawa2, padahal dari seluruh lapisan masyarakat, anak2lah yang paling tidak mampu membiayai pengeluaran dari pemakaian hpnya.

Saya kebetulan sudah mulai melihat gejala2 tidak beres pada pemakaian hp oleh anak2 yang mulai terpengeruh iklan2 televisi tersebut. Awal2nya hanya coba2, kan katanya "murah", "cuma" 1000rupiah/sms, bisa menang ini itu. Meskipun tidak menang, tapi makin banyak tawaran2 yg kemudian masuk ke inbox sms, yang kembali mengundang si anak untuk ikut lebih banyak lagi ketik REG.... Tanpa terasa habis sudah
pulsanya. Dari situ serentetan masalah pun dimulai.

Saya tidak tahu bagaimana mengontrol iklan di televisi, tapi saya pikir tidak ada salahnya kita semua sesama orang yang peduli masa depan anak2 untuk mulai mengajar anak2 supaya lebih awas terhadap tawaran2 atau ajakan2 semacam itu. Jangan sekedar melarang atau menentukan berapa uang pulsa sebulan, tetapi ajak anak berpikir lebih
jauh untuk menentukan sikap. Misalnya, kalau ada iklan orang berpakaian gelap2 menawarkan jasa ramalan, ajak anak berdiskusi tentang tujuan iklan tsb. Dengan mengajak anak berpikir kritis, mudah2an saat dia bertemu situasi di mana kita tidak ada untuk dimintai nasihat, dia bisa mengambil keputusan yang lebih bijaksana.

1/14/2008

iREAD: The Butcher Boy - Patrick McCabe


Judul: The Butcher Boy
Penulis: Patrick McCabe
Jenis: Novel
Penghargaan: Booker Prize Nominee

Kata saya: menarik sekali! Buku ini tampaknya salah satu bacaan wajib waktu di salah satu mata kuliah adik saya, melihat catatan2 di tepi halaman yang ditulis dengan pensil. Berbahagialah yang mengambil mata kuliah tersebut. Buku ini menceritakan kisah seorang tokoh Francis Brady, dari sudut pandang tokoh itu sendiri. Menariknya, karakter ini berkembang menghadapi masalah2 dalam hidupnya (ortu yg kurang beres, teman yg pindah ke lain hati), yang membawa dia tumbuh dari bocah yang penuh khayal menjadi seorang dewasa yang nyaris hilang kewarasannya. Antara lucu, sedih, dan mengerikan, Patrick McCabe dengan penuh kendali mengantar kita menyusuri pikiran Francis yang tak terkendali. Kadang2 kita harus sedikit memutar otak, menggunakan imajinasi untuk mengetahui kejadian yg sebenarnya dalam cerita, dan mana yang merupakan reaksi psikologis Francis terhadap kejadian tersebut.

Buku ini mengingatkan saya pada: The Catcher In The Rye karya J.D. Salinger, tapi karakter Holden Caufield kalah seru dengan Francis Brady.

Tapi jangan percaya begitu saja, silahkan baca sendiri.

Puisi: Sajak-sajak Rempoa


*sajak sabtu pagi*

pagi ini aku ingin menulis puisi
tentang petikan gitar yang mengelus telingaku
tentang kopi susu manis di cangkirku
tentang deru motor di jalan depan rumahku
tentang daun-daun yang berguguran ditiup angin
tentang layangan putus tergeletak di halaman
tentang semua yang mewarnai dunia
detik ini saja

-rempoa, 11 juni 2005-

*simply biological*

love is
:simply biological
romance is
:simply an illusion
jumbled pictures of sunsets, roses, wines and candle lights
just to make love
:seem prettier than it is
to make humans' efforts to pass their genes
:seem more than
simply biological

-rempoa, 13 Desember 2005-

*ekuilibrium*

tidak banyak yang bisa terungkap saat ini
tidak lewat kata
tidak lewat mata
tidak juga lewat ujung jarimu
tapi tak apa
di sini tidak ada pertanyaan
sudah kujawab keraguan
sudah kutemukan pijakan nyaman
tempat kita menjaga jarak
di sinilah ekuilibrium

*sajak pagi*

satu malam lagi terlewati
satu pagi lagi aku menggali
mencari keramaian jauh jauh ke dalam hati
tidak ada suara-suara lain
hanya bisik-bisik nurani
sibuk bebenah menyusun kata-kata
yang akan menerangi hari ini

-rempoa, 30 juni 2006-

IMHO: Seragam vs Baju Bebas

Sewaktu pemda Gowa melepaskan siswa dari seragam, sedikit ramai hal ini dibahas. Sebagian orang merasa seragam tetap dibutuhkan, mengingat tujuannya adalah menghindari terlihatnya perbedaaan status sosial di kalangan siswa.

Saya pikir meniadakan seragam itu belum tentu jelek, malah bisa berdampak positif, asal sekolah dan pendidik siap menghadapi tantangan tersebut.

Seragam kan tujuannya meniadakan keanekaragaman, khususnya dlm hal ini keanekaragaman penampilan, yg dianggap merepresentasikan status ekonomi individu, yakni berdasarkan asumsi bahwa yg kaya berpenampilan kaya, dan yg miskin berpenampilan miskin. Dengan adanya seragam di sekolah, diharapkan siswa tidak melihat perbedaan antara kaya dan miskin, tapi sejauh manakah gagasan ini efektif?

Kalau dipikir2 lagi, kenapa perbedaan antara kaya dan miskin itu harus dihindari? Apakah anak-anak cenderung bergaul dengan teman-teman yang sama taraf ekonominya? Kalau ya, apakah keberadaan seragam efektif menghindari hal ini? Mengingat siswa menghabiskan waktu sekitar 6-9 jam di sekolah, apakah pengaruh pergaulan di luar jam sekolah lebih besar dalam menentukan sikap sosial mereka?

Sebetulnya pesan apa yang ditangkap anak-anak, saat mereka dipakaikan seragam? Kalau kebetulan seragamnya berbeda dgn seragam sekolah2 lain, dia mungkin bangga (atau malu? ^_^) bahwa di luar sekolah semua tahu dia siswa sekolah anu. Di sisi lain, mungkin juga siswa berpikir, aku pakai seragam, karena aku ngga boleh kelihatan kaya/miskin di antara teman2ku. Lebih jauh dari itu, pesan yang mungkin secara tidak sadar tertanam dalam pikirannya adalah: penampilan yang menunjukkan status sosial adalah penting! Mungkin ini sebabnya saya sering melihat anak2 abg jalan2 di mall dengan model rambut, model baju, celana, sepatu, tas yg nyaris sama, mengikuti trend terkini. Tampaknya, mereka tidak berani tampil beda, karena kalau beda nanti dianggap katro, kuper, dll. Sebegitu pentingnya penampilan ini di mata mereka!

Menurut saya, dalam pendidikan anak yang seharusnya juga mencakup inteligensi sosial, keanekaragaman itu harusnya jangan ditutupi dengan seragam. Toh pada kenyataannya, tidak semua anak yang kaya ingin terlihat kaya, dan yang miskin terlihat miskin, semua itu tergantung dari keluarganya. Biarlah anak-anak mengekspresikan dirinya melalui penampilan, dan biarkan mereka melihat perbedaan yang ada. Lalu sementara mereka mengobservasi, tugas pendidik adalah mengarahkan cara berpikir anak, untuk melihat apa yang penting, penampilan di luar atau karakter di dalam? Di sinilah anak-anak dapat belajar untuk menilai segala sesuatu tidak hanya dari hal2 yang berbau superfisial atau apa yang terlihat, tapi lebih jauh ke dalam setiap sosok individu. Melalui keanekaragaman, anak juga dapat belajar berempati, menempatkan dirinya di posisi orang yg berbeda dengannya.

Melepaskan seragam bukan berarti melepaskan aturan. Sekolah perlu juga menetapkan dress code yang baik, misalnya pakaian boleh bebas tapi harus sopan, tidak memperlihatkan pakaian dalam, jangan memakai perhiasan berharga, jangan memakai asesoris yang membahayakan keselamatan pribadi maupun orang lain, jangan membawa asesoris yang tidak dibutuhkan untuk keperluan sekolah, dll. Ajak siswa untuk ikut membuat aturan tersebut, supaya ikut berpikir lebih jauh dalam mengatur penampilannya.

Pengalaman saya sekolah di luar negeri, ternyata ketiadaan seragam itu bukan hal yang menyusahkan. Ternyata teman2 saya di sana berpakaian lebih sesuai kebutuhan, kenyamanan, dan ekspresi diri, ketimbang keinginan untuk menunjukkan status sosialnya. Tanpa mengunjungi rumah teman2, saya tidak tahu apakah kaya miskinnya. Dan kalau ternyata kaya atau miskin, so what, gitu loh. Memang sifat org sono lebih individualistis, tapi bukan berarti melulu jelek. Individualisme yang baik yaitu menghargai keunikan diri, jati diri, karakter yang kuat dan tidak tergantung pada penilaian dunia luar yang mematikan kreatifitas.

Jadi, kalau biaya seragam terasa berat buat ortu, dan tidak bisa dibebankan ke sekolah, apalagi ke APBD, saya rasa tidak ada salahnya anak2 disuruh pakai baju bebas. Mendingan duitnya buat nambah buku perpus. Paling tiap hari ada waktu ekstra di depan lemari baju untuk mikir, hari ini pakai baju apa ya?

1/05/2008

Puisi: salah 3

-salah-

kelokan yang salah
aku mengambil langkah
berhenti aku di tengah-tengah
menatap matahari yang jengah

masih ada waktukah tuk berbalik?


-teman-

teman yang tadi menemaniku ke sini
lenyap di tengah lampu warna-warni
di pesta ini aku ternyata sendiri
seperti Alice di Negeri Mimpi


-You're not always on my mind-

the whistle of my kettle
doesn't make me think about your favorite coffee

a whiff of your perfume
doesn't make me want to touch your skin

the box of tissue by my bed
doesn't remind me of your morning allergies

the sight of my own stubby fingers
doesn't make me miss your long beautiful ones

the jingle of my keys
doesn't remind me of the day you were leaving

the words of my poems
are not about you at all

(cimanggis, 11 januari 2007)

Words2Ponder: For God to me

For God to me, it seems
is a verb
not a noun,
proper or improper;
is the articulation
not the art...
is loving,
not the abstraction of love...

Yes, God is a verb,
the most active, connoting the vast harmonic
reordering of the universe
from the unleashed chaos of energy.

-Buckminster Fuller