Sewaktu pemda Gowa melepaskan siswa dari seragam, sedikit ramai hal ini dibahas. Sebagian orang merasa seragam tetap dibutuhkan, mengingat tujuannya adalah menghindari terlihatnya perbedaaan status sosial di kalangan siswa.
Saya pikir meniadakan seragam itu belum tentu jelek, malah bisa berdampak positif, asal sekolah dan pendidik siap menghadapi tantangan tersebut.
Seragam kan tujuannya meniadakan keanekaragaman, khususnya dlm hal ini keanekaragaman penampilan, yg dianggap merepresentasikan status ekonomi individu, yakni berdasarkan asumsi bahwa yg kaya berpenampilan kaya, dan yg miskin berpenampilan miskin. Dengan adanya seragam di sekolah, diharapkan siswa tidak melihat perbedaan antara kaya dan miskin, tapi sejauh manakah gagasan ini efektif?
Kalau dipikir2 lagi, kenapa perbedaan antara kaya dan miskin itu harus dihindari? Apakah anak-anak cenderung bergaul dengan teman-teman yang sama taraf ekonominya? Kalau ya, apakah keberadaan seragam efektif menghindari hal ini? Mengingat siswa menghabiskan waktu sekitar 6-9 jam di sekolah, apakah pengaruh pergaulan di luar jam sekolah lebih besar dalam menentukan sikap sosial mereka?
Sebetulnya pesan apa yang ditangkap anak-anak, saat mereka dipakaikan seragam? Kalau kebetulan seragamnya berbeda dgn seragam sekolah2 lain, dia mungkin bangga (atau malu? ^_^) bahwa di luar sekolah semua tahu dia siswa sekolah anu. Di sisi lain, mungkin juga siswa berpikir, aku pakai seragam, karena aku ngga boleh kelihatan kaya/miskin di antara teman2ku. Lebih jauh dari itu, pesan yang mungkin secara tidak sadar tertanam dalam pikirannya adalah: penampilan yang menunjukkan status sosial adalah penting! Mungkin ini sebabnya saya sering melihat anak2 abg jalan2 di mall dengan model rambut, model baju, celana, sepatu, tas yg nyaris sama, mengikuti trend terkini. Tampaknya, mereka tidak berani tampil beda, karena kalau beda nanti dianggap katro, kuper, dll. Sebegitu pentingnya penampilan ini di mata mereka!
Menurut saya, dalam pendidikan anak yang seharusnya juga mencakup inteligensi sosial, keanekaragaman itu harusnya jangan ditutupi dengan seragam. Toh pada kenyataannya, tidak semua anak yang kaya ingin terlihat kaya, dan yang miskin terlihat miskin, semua itu tergantung dari keluarganya. Biarlah anak-anak mengekspresikan dirinya melalui penampilan, dan biarkan mereka melihat perbedaan yang ada. Lalu sementara mereka mengobservasi, tugas pendidik adalah mengarahkan cara berpikir anak, untuk melihat apa yang penting, penampilan di luar atau karakter di dalam? Di sinilah anak-anak dapat belajar untuk menilai segala sesuatu tidak hanya dari hal2 yang berbau superfisial atau apa yang terlihat, tapi lebih jauh ke dalam setiap sosok individu. Melalui keanekaragaman, anak juga dapat belajar berempati, menempatkan dirinya di posisi orang yg berbeda dengannya.
Melepaskan seragam bukan berarti melepaskan aturan. Sekolah perlu juga menetapkan dress code yang baik, misalnya pakaian boleh bebas tapi harus sopan, tidak memperlihatkan pakaian dalam, jangan memakai perhiasan berharga, jangan memakai asesoris yang membahayakan keselamatan pribadi maupun orang lain, jangan membawa asesoris yang tidak dibutuhkan untuk keperluan sekolah, dll. Ajak siswa untuk ikut membuat aturan tersebut, supaya ikut berpikir lebih jauh dalam mengatur penampilannya.
Pengalaman saya sekolah di luar negeri, ternyata ketiadaan seragam itu bukan hal yang menyusahkan. Ternyata teman2 saya di sana berpakaian lebih sesuai kebutuhan, kenyamanan, dan ekspresi diri, ketimbang keinginan untuk menunjukkan status sosialnya. Tanpa mengunjungi rumah teman2, saya tidak tahu apakah kaya miskinnya. Dan kalau ternyata kaya atau miskin, so what, gitu loh. Memang sifat org sono lebih individualistis, tapi bukan berarti melulu jelek. Individualisme yang baik yaitu menghargai keunikan diri, jati diri, karakter yang kuat dan tidak tergantung pada penilaian dunia luar yang mematikan kreatifitas.
Jadi, kalau biaya seragam terasa berat buat ortu, dan tidak bisa dibebankan ke sekolah, apalagi ke APBD, saya rasa tidak ada salahnya anak2 disuruh pakai baju bebas. Mendingan duitnya buat nambah buku perpus. Paling tiap hari ada waktu ekstra di depan lemari baju untuk mikir, hari ini pakai baju apa ya?