Seorang ibu dari seorang pelajar SMK di daerah Cileungsi mengeluh. Guru kelas anaknya baru saja mengadakan razia telepon genggam. Menurut si ibu, berdasarkan cerita anaknya, 2 karung hp berhasil dikumpulkan. Anehnya, untuk memperoleh hpnya kembali, setiap siswa harus mengeluarkan uang Rp 20.000 yang harus disetorkan kepada guru tersebut. Bisa dibayangkan banyaknya uang yang diperoleh guru tersebut. Menurut si ibu, sang guru mengancam akan mempersulit siswa yang ortunya menantang kebijakan tersebut. Sang ibu mengeluh karena hp tersebut sangat penting untuk berkomunikasi dengan sang anak yang rumahnya jauh sehingga sering butuh dijemput jika kesulitan menemukan kendaraan umum. Dengan terpaksa hpnya ditebus oleh si ibu yang kerjanya sehari-hari sebagai pembantu rumah tangga.
Kalau dipikir-pikir, apa sih tujuan razia hp tersebut? Saya bisa mengerti kalau siswa dilarang menggunakan hp di kelas. Saya juga bisa mengerti kalau hp yang ditemukan memiliki gambar/video yang mengandung unsur seksual/kekerasan/dll lantas disita oleh pihak sekolah. Tapi untuk mengambil hp milik siswa, kemudian menarik biaya pengembalian hp tersebut saya pikir ini mirip pemerasan a la preman. Apakah tujuannya untuk membuat para siswa jera membawa hp ke sekolah? Jelas-jelas hp itu penting untuk sebagian siswa, bukan semata-mata mainan. Kalau memang dilarang digunakan di dalam kelas, kenapa tidak disimpan saja selama jam pelajaran di ruang guru misalnya, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Saya tidak menutup kemungkinan adanya unsur hiperbola dari cerita yang disampaikan oleh ibu ini, tapi tetap saja, saya yakin ada unsur kebenarannya. Saya pikir aneh sekali cara berpikir guru dan sekolah ini. Pakai mengancam lagi, akan mempersulit siswa jika orang tua memprotes kebijakannya. Diperlakukan dengan cara preman seperti ini, tidaklah heran begitu banyak preman di jalanan, bahkan di berbagai instansi pemerintahan. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari...
Mulai pagi ini, Kalau kutekan keyboard kudengar, "-chika-..chikachikachika-..chikachika-" (dari sajak "obsesklik" - Jaranireng 12/99)
11/21/2008
7/18/2008
6/20/2008
Orang Miskin tidak boleh sakit?
Baru-baru in seorang warga Leuwinanggung jatuh pingsan di pasar. Oleh kerabatnya segera dibawa ke rumah sakit. Menurut cerita, pihak rumah sakit minta pihak pasien menyediakan dana Rp8 juta sebelum pasien bisa ditempatkan di ICU. BPKB motor sempat ditawarkan, tapi ditolak. Sang kerabat pun sibuk mencari pinjaman Rp8juta agar pasien dapat ditangani. Sayangnya, pasien meninggal di rumah sakit sebelum dananya terkumpul.
Pertanyaan saya: apakah pihak rumah sakit sudah berupaya menstabilkan pasien sementara kerabatnya mencari dana untuk ICU? Apakah ini salah satu bukti rumah sakit melaksanakan prinsip: ada uang, pasien tertolong?
Berikut berita dari Tribun Jabar:
ORANG MISKIN MEMANG TIDAK BOLEH SAKIT
Adityas Annas Azhari, Wartawan Tribun
MENTERI Kesehatan Siti Fadilah Supari berang terhadap PT Asuransi Kesehatan (Askes). Pasalnya BUMN tersebut tidak becus membayar lunas klaim Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) kepada sejumlah Rumah Sakit (RS) Daerah (Tribun, Senin 15/10). Lantaran tak menerima pembayaran klaim Askeskin pula sejumlah RS rujukan di daerah kerap meminta biaya berobat masyarakat miskin. 'Mereka ini susah banget kalau diminta klaim Askeskin. Misalkan saja di RS Sadikin yang meminta tagihan Rp 35 miliar, tapi yang dikasih Rp 30 juta. Kemudian RS daerah Makassar, mereka ini menagih Rp 27 miliar, namun yang dikasih Rp 600 juta. Eh setelah kita semprot melalui media mereka terus kirim langsung Rp 9 miliar,' papar Menkes.
Sebaliknya Direktur PT Askes Orie Andari Sutadji mengaku, Askes tengah terbelit utang. Per 31 Agustus utangnya Rp 1,9 triliun. Utang tersebut bakal bertambah bila dirata-rata, klaim Askeskin tiap bulan dari seluruh rumah sakit mitra Askeskin Rp 350 miliar.
Nyatanya Menkes justru marah kepada Orie atas jawabannya itu. 'Askes itu berhadapan dengan pemerintah. Pemerintah itu bukan Depkes loh, pemerintah itu SBY. Kok bisa-bisanya pemerintah dianggap kehabisan uang. Memang PT Askes itu punya siapa. Diakan juga BUMN, kok dia malah mengomeli negaranya sendiri. Memang PT Askes itu punya Amerika atau Rusia,' sembur Menkes.
Kemarahan Menkes dan sangkalan Direktur PT Askes silakan saja bergema di ruang-ruang publik. Namun jelas hal itu tidak segera mengobati jutaan rakyat miskin yang hingga kini membutuhkan pertolongan medis segera.
Sebetulnya bukan saja kebijakan Depkes dan PT Askes yang menambah kesengsaraan rakyat, rumah-rumah sakit daerah (mitra Askeskin) juga berperan mempecepat kematian si miskin. Tidak sedikit keluhan melalui koran ini terkait pelayanan buruk RS Daerah yang hanya sekadar menolong tapi tidak sungguh-sungguh memperjuangkan nyawa pasien miskin. Padahal si miskin itu terkadang sudah menunjukkan kartu Askeskin.
Namun tak jarang diterapkan prinsip ada uang pasien tertolong, tidak ada uang silakan cari utang. Hal tersebut masih ditambah dengan pelayanan dari perawat atau staf administrasi yang terkadang judes kepada orang miskin yang lugu dan minim informasi. Atau ada pula alasan memperberat penderitaan dengan mengatakan obat ini tidak diganti Askes jadi silakan beli sendiri dan harus segera. Birokrasi berbelit-belit hanya untuk membuktikan bahwa si X adalah orang miskin juga memperburuk keadaan keluarga pasien miskin.
Lalu siapakah yang dapat menikmati layanan prima dalam kesehatan di negeri ini? Tentu saja para pembesar termasuk (tersangka) koruptor. Lihat saja Syaukani, Bupati Kutai Kertanegara Kalimantan Timur ini dirawat di ruang Very Very Important Person (VVIP) yang bertarif Rp 2 juta sehari di RS Pertamina. Ia mendapat layanan mewah. Kasus seperti Syaukani ini bukan sekali saja terjadi di negeri ini. Banyak pejabat atau mantan-mantan pejabat yang jadi tersangka korupsi miliaran rupiah tiba-tiba jatuh sakit lalu mendapat perawatan kesehatan sangat layak di RS. Sebaliknya rakyat jelata mendapat servis ala kadarnya. Dengan demikian di negeri ini orang miskin memang tidak boleh sakit jika tidak ingin sakit hati dan akhirnya mati.(*)
Pertanyaan saya: apakah pihak rumah sakit sudah berupaya menstabilkan pasien sementara kerabatnya mencari dana untuk ICU? Apakah ini salah satu bukti rumah sakit melaksanakan prinsip: ada uang, pasien tertolong?
Berikut berita dari Tribun Jabar:
ORANG MISKIN MEMANG TIDAK BOLEH SAKIT
Adityas Annas Azhari, Wartawan Tribun
MENTERI Kesehatan Siti Fadilah Supari berang terhadap PT Asuransi Kesehatan (Askes). Pasalnya BUMN tersebut tidak becus membayar lunas klaim Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) kepada sejumlah Rumah Sakit (RS) Daerah (Tribun, Senin 15/10). Lantaran tak menerima pembayaran klaim Askeskin pula sejumlah RS rujukan di daerah kerap meminta biaya berobat masyarakat miskin. 'Mereka ini susah banget kalau diminta klaim Askeskin. Misalkan saja di RS Sadikin yang meminta tagihan Rp 35 miliar, tapi yang dikasih Rp 30 juta. Kemudian RS daerah Makassar, mereka ini menagih Rp 27 miliar, namun yang dikasih Rp 600 juta. Eh setelah kita semprot melalui media mereka terus kirim langsung Rp 9 miliar,' papar Menkes.
Sebaliknya Direktur PT Askes Orie Andari Sutadji mengaku, Askes tengah terbelit utang. Per 31 Agustus utangnya Rp 1,9 triliun. Utang tersebut bakal bertambah bila dirata-rata, klaim Askeskin tiap bulan dari seluruh rumah sakit mitra Askeskin Rp 350 miliar.
Nyatanya Menkes justru marah kepada Orie atas jawabannya itu. 'Askes itu berhadapan dengan pemerintah. Pemerintah itu bukan Depkes loh, pemerintah itu SBY. Kok bisa-bisanya pemerintah dianggap kehabisan uang. Memang PT Askes itu punya siapa. Diakan juga BUMN, kok dia malah mengomeli negaranya sendiri. Memang PT Askes itu punya Amerika atau Rusia,' sembur Menkes.
Kemarahan Menkes dan sangkalan Direktur PT Askes silakan saja bergema di ruang-ruang publik. Namun jelas hal itu tidak segera mengobati jutaan rakyat miskin yang hingga kini membutuhkan pertolongan medis segera.
Sebetulnya bukan saja kebijakan Depkes dan PT Askes yang menambah kesengsaraan rakyat, rumah-rumah sakit daerah (mitra Askeskin) juga berperan mempecepat kematian si miskin. Tidak sedikit keluhan melalui koran ini terkait pelayanan buruk RS Daerah yang hanya sekadar menolong tapi tidak sungguh-sungguh memperjuangkan nyawa pasien miskin. Padahal si miskin itu terkadang sudah menunjukkan kartu Askeskin.
Namun tak jarang diterapkan prinsip ada uang pasien tertolong, tidak ada uang silakan cari utang. Hal tersebut masih ditambah dengan pelayanan dari perawat atau staf administrasi yang terkadang judes kepada orang miskin yang lugu dan minim informasi. Atau ada pula alasan memperberat penderitaan dengan mengatakan obat ini tidak diganti Askes jadi silakan beli sendiri dan harus segera. Birokrasi berbelit-belit hanya untuk membuktikan bahwa si X adalah orang miskin juga memperburuk keadaan keluarga pasien miskin.
Lalu siapakah yang dapat menikmati layanan prima dalam kesehatan di negeri ini? Tentu saja para pembesar termasuk (tersangka) koruptor. Lihat saja Syaukani, Bupati Kutai Kertanegara Kalimantan Timur ini dirawat di ruang Very Very Important Person (VVIP) yang bertarif Rp 2 juta sehari di RS Pertamina. Ia mendapat layanan mewah. Kasus seperti Syaukani ini bukan sekali saja terjadi di negeri ini. Banyak pejabat atau mantan-mantan pejabat yang jadi tersangka korupsi miliaran rupiah tiba-tiba jatuh sakit lalu mendapat perawatan kesehatan sangat layak di RS. Sebaliknya rakyat jelata mendapat servis ala kadarnya. Dengan demikian di negeri ini orang miskin memang tidak boleh sakit jika tidak ingin sakit hati dan akhirnya mati.(*)
6/09/2008
Pablo Neruda: "Towards an Impure Poetry"
In 1935 Pablo Neruda wrote:
"It is useful at certain hours of the day and night to look closely at the world of objects at rest: wheels that have crossed long, dusty spaces with their huge vegetal and mineral burdens, bags of coal from the coal bins, barrels, baskets, handles and hafts in a carpenter's tool chest. From them flow the contacts of man with earth, like an object lesson for all troubled lyricists. The used surfaces of things, the wear that hands have given to things, the air, tragic at times, pathetic at others, of such things -- all lend a curious attractiveness to reality that we should not underestimate."
"It is useful at certain hours of the day and night to look closely at the world of objects at rest: wheels that have crossed long, dusty spaces with their huge vegetal and mineral burdens, bags of coal from the coal bins, barrels, baskets, handles and hafts in a carpenter's tool chest. From them flow the contacts of man with earth, like an object lesson for all troubled lyricists. The used surfaces of things, the wear that hands have given to things, the air, tragic at times, pathetic at others, of such things -- all lend a curious attractiveness to reality that we should not underestimate."
5/30/2008
The U-turners!
Awalnya dari salah satu stasiun radio yang menyebut pendengarnya U-lovers, Motioners, lalu saya jadi teringat sebutan putih-abu2ers buat anak SMU. Di tikungan putar balik, pikiran saya beralih ke seorang anak muda (laki2) yang mengayun2kan tangannya seperti polantas. Aha! Ada U-turner di sini! Begitu melihat saya menyalakan lampu belok (turning signal), dia langsung berusaha mengakomodasi niat saya itu dan berusaha menyetop kendaraan dari arah yang berlawanan (dengan berdiri di tengah jalan), supaya saya bisa putar balik. Sebuah truk melambat dan akhirnya berhenti di depannya, saya pun maju. Usahanya saya hargai dengan memberikan koin 500an yg sengaja saya sediakan di mobil untuk orang2 seperti ini.
Pengatur lalu-lintas tidak resmi ini banyak bertebaran di mana2. Tidak hanya di tikungan putar balik, tapi juga di persimpangan, terowongan, dan parkiran liar. Kehadiran mereka kadang membantu, kadang menyusahkan, tergantung niat dan efisiensi mereka bekerja. Kadang ada yg dengan serius dan berupaya sistematis melancarkan lalu lintas. Jika kebetulan tidak diberi uang, lambaian tangan sopir akan dibalas dengan anggukan dan tangan terangkat ramah. Tapi ada juga yang malah bikin macet, terutama jika para pengatur tidak kompak dengan satu sama lain.
Pada intinya mereka mencari kesempatan memperoleh sedikit uang di tengah kerumitan belantara lalu lintas kota2 besar di Indonesia, di mana budaya mengalah sudah jarang dipraktekkan oleh pengemudi kendaraan bermotor. Yang ada adalah budaya nyodok. Untuk pengemudi penakut seperti saya, biasanya saya harus menunggu cukup lama di persimpangan sampai ada pengemudi yang cukup ramah dan mau memberi jalan. Pernah saya menerapkan teori: jika kita bersikap ramah pada pengemudi lain (dengan membuka jendela, melambaikan tangan dan tersenyum), pengemudi lain jg akan mau mengalah untuk kita. Entah ini sekedar teori tinggal teori, atau memang senyum saya lebih mengarah ke marah daripada ramah, usaha saya tebar pesona tidak membuahkan hasil, kecuali dibalas senyuman dan kedipan dari sopir truk yang terus maju tanpa memberi jalan.
Maka bersyukur juga saya dengan adanya para pengatur lalu lintas tak resmi ini. Dengan sedikit koordinasi tangan, mata dan kaki, bisalah saya berputar balik sambil menyerahkan gopean atau seribuan ke tangannya sebelum saya melaju.
Kalau para pengemudi kita semua tiba2 berubah santun dan patuh pada peraturan lalu lintas, tentunya anak2 ini tidak akan perlu berada di jalan. Mereka tidak perlu menghirup debu dan asap knalpot di bawah terik matahari demi sejumlah uang yang mungkin tak bertahan lama di saku mereka. Kalau para pengemudi kita santun dan patuh peraturan lalu lintas, anak2 ini tidak di jalan, bukan hanya karena tidak ada kerjaan di jalan, tapi karena mereka mungkin akan sibuk melakukan hal2 lain yang lebih positif, bermanfaat, dan tidak membahayakan kesehatan mereka. Mungkin pada sekolah, mungkin pada punya pekerjaan yang lebih baik. Karena saya pikir perilaku kita di jalan tentunya tidak jauh beda dengan perilaku kita sehari2. Sejauh mana kita menghormati peraturan?
Yah, mungkin kalau hari ini ketemu dengan para U-turners ini, mari kita panjatkan sepotong doa buat mereka, atau setidaknya harapan positif buat mereka. Entah bagaimana, mudah2an suatu hari mereka2 ini punya kehidupan yang lebih baik.
Pengatur lalu-lintas tidak resmi ini banyak bertebaran di mana2. Tidak hanya di tikungan putar balik, tapi juga di persimpangan, terowongan, dan parkiran liar. Kehadiran mereka kadang membantu, kadang menyusahkan, tergantung niat dan efisiensi mereka bekerja. Kadang ada yg dengan serius dan berupaya sistematis melancarkan lalu lintas. Jika kebetulan tidak diberi uang, lambaian tangan sopir akan dibalas dengan anggukan dan tangan terangkat ramah. Tapi ada juga yang malah bikin macet, terutama jika para pengatur tidak kompak dengan satu sama lain.
Pada intinya mereka mencari kesempatan memperoleh sedikit uang di tengah kerumitan belantara lalu lintas kota2 besar di Indonesia, di mana budaya mengalah sudah jarang dipraktekkan oleh pengemudi kendaraan bermotor. Yang ada adalah budaya nyodok. Untuk pengemudi penakut seperti saya, biasanya saya harus menunggu cukup lama di persimpangan sampai ada pengemudi yang cukup ramah dan mau memberi jalan. Pernah saya menerapkan teori: jika kita bersikap ramah pada pengemudi lain (dengan membuka jendela, melambaikan tangan dan tersenyum), pengemudi lain jg akan mau mengalah untuk kita. Entah ini sekedar teori tinggal teori, atau memang senyum saya lebih mengarah ke marah daripada ramah, usaha saya tebar pesona tidak membuahkan hasil, kecuali dibalas senyuman dan kedipan dari sopir truk yang terus maju tanpa memberi jalan.
Maka bersyukur juga saya dengan adanya para pengatur lalu lintas tak resmi ini. Dengan sedikit koordinasi tangan, mata dan kaki, bisalah saya berputar balik sambil menyerahkan gopean atau seribuan ke tangannya sebelum saya melaju.
Kalau para pengemudi kita semua tiba2 berubah santun dan patuh pada peraturan lalu lintas, tentunya anak2 ini tidak akan perlu berada di jalan. Mereka tidak perlu menghirup debu dan asap knalpot di bawah terik matahari demi sejumlah uang yang mungkin tak bertahan lama di saku mereka. Kalau para pengemudi kita santun dan patuh peraturan lalu lintas, anak2 ini tidak di jalan, bukan hanya karena tidak ada kerjaan di jalan, tapi karena mereka mungkin akan sibuk melakukan hal2 lain yang lebih positif, bermanfaat, dan tidak membahayakan kesehatan mereka. Mungkin pada sekolah, mungkin pada punya pekerjaan yang lebih baik. Karena saya pikir perilaku kita di jalan tentunya tidak jauh beda dengan perilaku kita sehari2. Sejauh mana kita menghormati peraturan?
Yah, mungkin kalau hari ini ketemu dengan para U-turners ini, mari kita panjatkan sepotong doa buat mereka, atau setidaknya harapan positif buat mereka. Entah bagaimana, mudah2an suatu hari mereka2 ini punya kehidupan yang lebih baik.
5/14/2008
Tips: Let the children know...
Maraknya kasus2 pelecehan seksual terhadap anak2 semakin mengkhawatirkan. Saya sebagai orang tua menjadi was2, dan saya rasa sudah waktunya orang tua membuka diri dan mempersiapkan anak2 untuk menghadapi situasi2 seperti ini.
Sepanjang hidup saya, saya sudah menemukan setidaknya 5 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Seperti halnya kasus2 yg terungkap di media massa, saya yakin kejadian yang belum terungkap sangat banyak, karena anak tidak melapor, atau orang tua sengaja menutup2i.
Pada sebagian besar kasus yang saya temukan, anak yang menjadi korban tidak mengetahui bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang wajar. Sebagian besar perlakuan orang dewasa terhadap anak2 ini memang tidak cukup kentara, seperti pelukan dan ciuman, sehingga tidak jelas2 merupakan pengalaman yang negatif untuk si anak. Si anak mungkin risih, karena yang memeluk dan mencium bukanlah anggota keluarga, misalnya guru, atau orang yang tidak dikenal.
Salah satu kasus terjadi di sebuah sekolah. Ada seorang guru yang cukup disukai anak2 murid. Suatu ketika guru tersebut mulai mendekati anak2 perempuan. Dia memanfaatkan kesempatan ketika ruangan sepi tanpa orang lain selain dirinya dan anak perempuan tsb. Pada bbrp kesempatan dia menghampiri anak tersebut, memeluk dan mencium sambil mengatakan bahwa anak itu anak yang baik dan cantik, lalu membiarkan anak itu pergi. Pada kesempatan lain, mungkin dia bertambah berani, guru tsb mulai menyentuh bagian2 tubuh tertentu. Baru saat itulah si anak merasa tidak beres dan memberitahukan orang tuanya. Berita ini pun membuat seisi sekolah gempar. Satu orang anak lain muncul dan melaporkan telah memperoleh perlakuan serupa dari pak guru tsb. Beberapa anak lain yang sempat dipeluk dan dicium sang guru pun tersadar, mungkin pak guru itu berencana melakukan hal yang sama thd mereka. Sang guru dikeluarkan dari sekolah.
Sebagian anak akan memberitahukan ortunya jika bagian2 tubuh tertentu dipegang orang, tapi bagaimana jika orang yang melakukan hal tersebut orang yang dikenalnya, yang dihormatinya, atau yang ditakutinya? Dan bagaimana jika orang tersebut membujuk si anak untuk merahasiakan hal tsb? Seperti contoh guru di atas, sebagian anak bahkan merasa guru tersebut benar2 menyayangi mereka karena dia memperlakukan mereka secara istimewa. Jika sudah merasa dekat, kemungkinan anak untuk menuruti kemauannya sangat besar!
Pada kasus lain, seorang anak perempuan berusia 7 tahun suatu hari mengeluh kepada ibunya, mengatakan kemaluannya sakit ketika buang air kecil. Ketika ditanya kenapa, anak menjawab, kemaluannya sakit sejak dipegang oleh pengasuhnya. Sang ibu pun terkejut dan seribu pertanyaan muncul di kepalanya. Sudah sejak kapan dia berani begitu? Kenapa anakku ga pernah bilang? Sudah sejauh apa dia berani menyentuh anak saya? Apakah anakku akan baik2 saja? Begitu ditanya, si pengasuh mengatakan dia gemas pada anak itu.
Orang tua jaman dulu sangat tabu membicarakan hal2 seputar seks dengan anak2, padahal untuk dapat melindungi diri dari kejadian2 seperti di atas diperlukan pengetahuan yang cukup tentang batas2 normal kontak fisik antara anak dan orang dewasa maupun anak lain. Berhubung kejadian seperti ini selalu terjadi di saat orang tuanya tidak ada, maka pertahanan anak yang pertama adalah dirinya sendiri. Karena itu saya rasa penting untuk dilakukan orang tua:
1. Ajak anak anda membicarakan bagian2 tubuhnya sejak ia mulai mengenal laki2 dan perempuan. Apa yang beda antara laki2 dan perempuan.
2. Dengan menggunakan istilah yang baik, tekankan mana bagian tubuh yang sifatnya pribadi, yang tidak kita perlihatkan kepada orang lain, dan tidak boleh orang lain perlihatkan miliknya kepada kita.
3. Bicarakan juga tentang arti kasih sayang. Apa itu kasih sayang, dan bagaimana menunjukkan kasih sayang dengan sesama, misalnya dengan saling menolong, memberi perhatian yang wajar, dengan memberi berbagai contoh hal2 yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga sebagai tanda kasih sayang antara satu sama lain. Kontak fisik yang wajar seperti rangkulan, belaian ciuman di pipi, di kening, atau di tangan ayah atau ibu juga bentuk kasih sayang. Sebutkan orang2 di luar keluarga yang juga mengasihi dia, seperti kakek, nenek, mungkin juga om dan tante, dan teman2.
4. Terakhir mulailah membicarakan hal2 yang dilarang. Bagian2 tubuhnya yang pribadi tadi, tidak boleh disentuh oleh orang lain, kecuali ayah ibu, atau dokter saat memeriksa di depan ayah atau ibu. Jika ada orang yang mau melihat atau menyentuh, katakan 'jangan' dan segera menjauh dari orang tersebut. Jika ada orang yang merangkul, memeluk, bahkan mencium dan dia merasa risih atau tidak senang, segeralah menjauh. Ajar anak untuk percaya instingnya. Segeralah beritahukan kepada ayah ibu. Pesan yang terakhir ini perlu diulang2 sesekali agar anak tidak lupa.
5. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anak, jangan menyalahkan dia. Kebanyakan anak tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, dan ketika sadar kejadian tersebut merupakan aib, dia sudah menanggung malu dengan sendirinya. Inilah luka yang lebih dalam dan sulit sembuh yang ditinggalkan oleh orang yang melecehkannya. Yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah meyakinkan bahwa kejadian yang menimpa dirinya sama sekali bukan salahnya, tetapi salah orang yang melakukannya. Dengan demikian mudah2an anak akan menyadari posisinya sebagai korban.
6. Jika anda menemukan orang yang tidak beres, pernah melakukan pelecehan atau hal2 yang menjurus ke arah pelecehan seksual, atau tidak wajar terhadap anak2, beritahukan teman2 anda agar waspada dan menjauhkan anak2 dari orang tersebut.
7. Mungkin ini pendapat pribadi saya saja, tapi saya rasa kurang wajar jika anak2 perempuan mengenakan pakaian2 seksi seperti yang modelnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang... yah, kurang sopan. Beberapa kali saya melihat lomba fashion show di mal2, anak2 perempuan yang mungil dan polos didandani seperti wts hollywood boulevard, lengkap dengan make-up tebal, rok super mini, sepatu platform berwarna neon, dan fish-net stocking. Mengerikan! Ini bukan soal selera saya rasa, tapi soal kewajaran. Entah apa yang dipikirkan ibu2 mereka, yang jelas saya tidak dapat membayangkan apa yang dipikirkan orang2 dengan kelainan seksual pedophil, yang saya yakin ada di antara penonton.
Untuk kebanyakan korban pelecehan seksual anak2, luka yang tertinggal sangat membekas. Tidak jarang luka tersebut ikut membentuk karakter anak di masa pertumbuhan, mengakibatkan masalah psikologis yang dapat mempengaruhi masa depannya. Karena itu adalah tugas kita sebagai orang tua untuk melindungi dan memastikan anak2 tumbuh sebagaimana mestinya.
Mudah2an tips2 di atas, meski mungkin banyak kekurangannya, dapat membantu orang tua melindungi anak dari pelecehan seksual.
Sepanjang hidup saya, saya sudah menemukan setidaknya 5 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Seperti halnya kasus2 yg terungkap di media massa, saya yakin kejadian yang belum terungkap sangat banyak, karena anak tidak melapor, atau orang tua sengaja menutup2i.
Pada sebagian besar kasus yang saya temukan, anak yang menjadi korban tidak mengetahui bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang wajar. Sebagian besar perlakuan orang dewasa terhadap anak2 ini memang tidak cukup kentara, seperti pelukan dan ciuman, sehingga tidak jelas2 merupakan pengalaman yang negatif untuk si anak. Si anak mungkin risih, karena yang memeluk dan mencium bukanlah anggota keluarga, misalnya guru, atau orang yang tidak dikenal.
Salah satu kasus terjadi di sebuah sekolah. Ada seorang guru yang cukup disukai anak2 murid. Suatu ketika guru tersebut mulai mendekati anak2 perempuan. Dia memanfaatkan kesempatan ketika ruangan sepi tanpa orang lain selain dirinya dan anak perempuan tsb. Pada bbrp kesempatan dia menghampiri anak tersebut, memeluk dan mencium sambil mengatakan bahwa anak itu anak yang baik dan cantik, lalu membiarkan anak itu pergi. Pada kesempatan lain, mungkin dia bertambah berani, guru tsb mulai menyentuh bagian2 tubuh tertentu. Baru saat itulah si anak merasa tidak beres dan memberitahukan orang tuanya. Berita ini pun membuat seisi sekolah gempar. Satu orang anak lain muncul dan melaporkan telah memperoleh perlakuan serupa dari pak guru tsb. Beberapa anak lain yang sempat dipeluk dan dicium sang guru pun tersadar, mungkin pak guru itu berencana melakukan hal yang sama thd mereka. Sang guru dikeluarkan dari sekolah.
Sebagian anak akan memberitahukan ortunya jika bagian2 tubuh tertentu dipegang orang, tapi bagaimana jika orang yang melakukan hal tersebut orang yang dikenalnya, yang dihormatinya, atau yang ditakutinya? Dan bagaimana jika orang tersebut membujuk si anak untuk merahasiakan hal tsb? Seperti contoh guru di atas, sebagian anak bahkan merasa guru tersebut benar2 menyayangi mereka karena dia memperlakukan mereka secara istimewa. Jika sudah merasa dekat, kemungkinan anak untuk menuruti kemauannya sangat besar!
Pada kasus lain, seorang anak perempuan berusia 7 tahun suatu hari mengeluh kepada ibunya, mengatakan kemaluannya sakit ketika buang air kecil. Ketika ditanya kenapa, anak menjawab, kemaluannya sakit sejak dipegang oleh pengasuhnya. Sang ibu pun terkejut dan seribu pertanyaan muncul di kepalanya. Sudah sejak kapan dia berani begitu? Kenapa anakku ga pernah bilang? Sudah sejauh apa dia berani menyentuh anak saya? Apakah anakku akan baik2 saja? Begitu ditanya, si pengasuh mengatakan dia gemas pada anak itu.
Orang tua jaman dulu sangat tabu membicarakan hal2 seputar seks dengan anak2, padahal untuk dapat melindungi diri dari kejadian2 seperti di atas diperlukan pengetahuan yang cukup tentang batas2 normal kontak fisik antara anak dan orang dewasa maupun anak lain. Berhubung kejadian seperti ini selalu terjadi di saat orang tuanya tidak ada, maka pertahanan anak yang pertama adalah dirinya sendiri. Karena itu saya rasa penting untuk dilakukan orang tua:
1. Ajak anak anda membicarakan bagian2 tubuhnya sejak ia mulai mengenal laki2 dan perempuan. Apa yang beda antara laki2 dan perempuan.
2. Dengan menggunakan istilah yang baik, tekankan mana bagian tubuh yang sifatnya pribadi, yang tidak kita perlihatkan kepada orang lain, dan tidak boleh orang lain perlihatkan miliknya kepada kita.
3. Bicarakan juga tentang arti kasih sayang. Apa itu kasih sayang, dan bagaimana menunjukkan kasih sayang dengan sesama, misalnya dengan saling menolong, memberi perhatian yang wajar, dengan memberi berbagai contoh hal2 yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga sebagai tanda kasih sayang antara satu sama lain. Kontak fisik yang wajar seperti rangkulan, belaian ciuman di pipi, di kening, atau di tangan ayah atau ibu juga bentuk kasih sayang. Sebutkan orang2 di luar keluarga yang juga mengasihi dia, seperti kakek, nenek, mungkin juga om dan tante, dan teman2.
4. Terakhir mulailah membicarakan hal2 yang dilarang. Bagian2 tubuhnya yang pribadi tadi, tidak boleh disentuh oleh orang lain, kecuali ayah ibu, atau dokter saat memeriksa di depan ayah atau ibu. Jika ada orang yang mau melihat atau menyentuh, katakan 'jangan' dan segera menjauh dari orang tersebut. Jika ada orang yang merangkul, memeluk, bahkan mencium dan dia merasa risih atau tidak senang, segeralah menjauh. Ajar anak untuk percaya instingnya. Segeralah beritahukan kepada ayah ibu. Pesan yang terakhir ini perlu diulang2 sesekali agar anak tidak lupa.
5. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anak, jangan menyalahkan dia. Kebanyakan anak tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, dan ketika sadar kejadian tersebut merupakan aib, dia sudah menanggung malu dengan sendirinya. Inilah luka yang lebih dalam dan sulit sembuh yang ditinggalkan oleh orang yang melecehkannya. Yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah meyakinkan bahwa kejadian yang menimpa dirinya sama sekali bukan salahnya, tetapi salah orang yang melakukannya. Dengan demikian mudah2an anak akan menyadari posisinya sebagai korban.
6. Jika anda menemukan orang yang tidak beres, pernah melakukan pelecehan atau hal2 yang menjurus ke arah pelecehan seksual, atau tidak wajar terhadap anak2, beritahukan teman2 anda agar waspada dan menjauhkan anak2 dari orang tersebut.
7. Mungkin ini pendapat pribadi saya saja, tapi saya rasa kurang wajar jika anak2 perempuan mengenakan pakaian2 seksi seperti yang modelnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang... yah, kurang sopan. Beberapa kali saya melihat lomba fashion show di mal2, anak2 perempuan yang mungil dan polos didandani seperti wts hollywood boulevard, lengkap dengan make-up tebal, rok super mini, sepatu platform berwarna neon, dan fish-net stocking. Mengerikan! Ini bukan soal selera saya rasa, tapi soal kewajaran. Entah apa yang dipikirkan ibu2 mereka, yang jelas saya tidak dapat membayangkan apa yang dipikirkan orang2 dengan kelainan seksual pedophil, yang saya yakin ada di antara penonton.
Untuk kebanyakan korban pelecehan seksual anak2, luka yang tertinggal sangat membekas. Tidak jarang luka tersebut ikut membentuk karakter anak di masa pertumbuhan, mengakibatkan masalah psikologis yang dapat mempengaruhi masa depannya. Karena itu adalah tugas kita sebagai orang tua untuk melindungi dan memastikan anak2 tumbuh sebagaimana mestinya.
Mudah2an tips2 di atas, meski mungkin banyak kekurangannya, dapat membantu orang tua melindungi anak dari pelecehan seksual.
5/09/2008
Puisi: The Tao of Love
aku ingin cinta kita seperti mata air mengalir
mencari ruang kosong tempat-tempat rendah
lembut mengelus celah bebatuan
sejuk direguk makhluk memberi hidup
seperti cawan meluap penuh mengisi
dalam ceruk tenang menggenang
berwajah refleksi murni cermin langit
tanpa hiruk pikuk impian semu
-siska
(cimanggis, 9 Mei 2008)
(cimanggis, 9 Mei 2008)
4/22/2008
IMHO: Perempuan dan Kebebasan

Menurut saya, emansipasi bagi kaum perempuan yang sesungguhnya adalah kebebasan murni untuk menentukan jalan hidupnya, baik dalam memilih profesi, mengembangkan diri, maupun dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Perempuan Indonesia saat ini masih harus memenuhi kriteria tertentu sebelum memperoleh predikat "sukses". Kalau zaman dulu kriterianya perempuan harus cantik menarik, pandai memasak, mengurus rumah, anak dan melayani suami, sekarang kriterianya bertambah, selain yg diatas, perempuan juga harus berpendidikan tinggi dan menjadi wanita karier. Tanpa pendidikan tinggi dan karier yang jelas perempuan belum dianggap perempuan modern. Saya rasa agak janggal jika ini yg disebut emansipasi, karena lagi2 ada tuntutan, lagi2 ada penilaian, kebebasan untuk menjadi diri sendiri belum sepenuhnya diakui.
By definition, emancipation means "freeing someone from the control of another".
3/06/2008
Wanted: Custom Made School
Gara2 seorang rekan blogger mengajak ikut brain-storming tentang pendidikan alternatif untuk masyarakat yang dapat membantu memecahkan masalah ekonomi sosial skala lokal (tengok: http://akhmadmurtajib.com/2008/03/05/sekolah-¨mengembalikan-ikan-ikan-yang-hilang-itu¨), saya jadi teringat sepotong ide saya yg saya posting di milis irianjaya sekitar 7 tahun lalu. Entah kenapa saat itu tidak ada yg langsung menanggapi, baik positif maupun negatif. Tapi selang bertahun2 kemudian ada yg tertarik dan menanyakan kapan ide tsb terealisasi. Ide tsb saya tuangkan sbb:
saya punya ide untuk bikin sekolah yg unik di Papua, tujuannya bukan sekadar memberantas buta huruf, tapi juga menghasilkan generasi muda yang kritis dalam berpikir, dan punya rasa kecintaan yang dalam akan masyarakat dan budayanya. Dengan demikian harapan saya generasi yg baru ini akan punya cukup karakter dan kemampuan untuk memajukan bangsanya sendiri, dan tidak gampang diadudomba oleh pihak2 lain.
Ide sekolah ini sudah dicetuskan dan direalisasikan sebelumnya di Sumatra Utara, di mana murid2nya ngga melulu dicekoki kurikulum buta dari pemerintah pusat, tapi juga dilibatkan dlm diskusi2 kreatif yg menghubungkan ilmu pengetahuan dan keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitarnya. Ide ini juga yang menjadi wujud
kerinduan saya untuk membantu masyarakat Papua, terutama setelah baca berita ELSHAM ttg kurangnya guru di Manokwari.
Saya pikir sudah waktunya pendidikan a la Diknas dikaji kembali. Meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia dibarengi masalah ekonomi sosial dan lingkungan yang semakin rumit menunjukkan bahwa pendidikan negeri ini tidaklah menghasilkan sumber daya manusia yang siap pakai, cukup jeli melihat maupun menyelesaikan tantangan masalah di sekitarnya. Pendidikan formal memang memberi ilmu, tapi ilmu itu dipaket sedemikian rupa hingga tidak terlihat korelasinya dengan kehidupan sehari2 masyarakat. Akibatnya pertumbuhan pikiran terjebak pada pola pikir yang sama.
Seandainya pendidikan dasar dan menengah saya berkorelasi dengan sekitar saya, tentunya saya akan lebih mengerti masalah yg dihadapi masyarakat Papua saat ini, dan dari sekian angkatan saya, akan banyak yg dapat membantu memecahkan masalah2 di sana, bukan hanya karena mereka bisa, tapi juga karena mereka peduli.
Cita2 saya membuat sekolah itu mudah2an bisa tercapai suatu saat di masa depan. Sementara ini saya cari ilmu dulu, ikut brainstorming dengan orang2 yg punya ide serupa.
saya punya ide untuk bikin sekolah yg unik di Papua, tujuannya bukan sekadar memberantas buta huruf, tapi juga menghasilkan generasi muda yang kritis dalam berpikir, dan punya rasa kecintaan yang dalam akan masyarakat dan budayanya. Dengan demikian harapan saya generasi yg baru ini akan punya cukup karakter dan kemampuan untuk memajukan bangsanya sendiri, dan tidak gampang diadudomba oleh pihak2 lain.
Ide sekolah ini sudah dicetuskan dan direalisasikan sebelumnya di Sumatra Utara, di mana murid2nya ngga melulu dicekoki kurikulum buta dari pemerintah pusat, tapi juga dilibatkan dlm diskusi2 kreatif yg menghubungkan ilmu pengetahuan dan keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitarnya. Ide ini juga yang menjadi wujud
kerinduan saya untuk membantu masyarakat Papua, terutama setelah baca berita ELSHAM ttg kurangnya guru di Manokwari.
Saya pikir sudah waktunya pendidikan a la Diknas dikaji kembali. Meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia dibarengi masalah ekonomi sosial dan lingkungan yang semakin rumit menunjukkan bahwa pendidikan negeri ini tidaklah menghasilkan sumber daya manusia yang siap pakai, cukup jeli melihat maupun menyelesaikan tantangan masalah di sekitarnya. Pendidikan formal memang memberi ilmu, tapi ilmu itu dipaket sedemikian rupa hingga tidak terlihat korelasinya dengan kehidupan sehari2 masyarakat. Akibatnya pertumbuhan pikiran terjebak pada pola pikir yang sama.
Seandainya pendidikan dasar dan menengah saya berkorelasi dengan sekitar saya, tentunya saya akan lebih mengerti masalah yg dihadapi masyarakat Papua saat ini, dan dari sekian angkatan saya, akan banyak yg dapat membantu memecahkan masalah2 di sana, bukan hanya karena mereka bisa, tapi juga karena mereka peduli.
Cita2 saya membuat sekolah itu mudah2an bisa tercapai suatu saat di masa depan. Sementara ini saya cari ilmu dulu, ikut brainstorming dengan orang2 yg punya ide serupa.
2/20/2008
iRead: I, ROBOT

Judul: I, ROBOT
Pengarang: Isaac Asimov
Jenis: Science Fiction
Buku ini rada kuno sebetulnya, ditulis dan dipublikasikan pertama kali tahun 50an. Bagi penggemar dan pengikut sci-fi, baik film maupun buku, novel2 karya Asimov ini melahirkan teknologi2 yang dalam dunia sekarang, 50 tahun kemudian, masih belum terealisasi. Beda dengan sebagian film2 sci-fi model James Bond, di mana gadget2nya yg dikhayalkan 20-30+ tahun lalu sekarang sudah ada dan bukan barang aneh lagi. Tapi meski jauh melampaui laju kemajuan teknologi yang sebenarnya, dunia interaksi manusia dan robot karangan Asimov ini terkesan realistis dalam bukunya, menjadikan novel I, ROBOT ini bacaan yang menarik.
Ada beberapa kisah serupa cerpen dlm novel ini, yg berkisar pada filosofi 3 hukum robotik, yg disebut The Three Laws of Robotics. Isinya kira2 begini:
1. Robot tidak boleh mencederai manusia, atau, melalui akibat dari perbuatanya, membahayakan manusia.
2. Robot harus mengikuti perintah yang diberikan manusia, kecuali jika perintah tersebut bertentangan dengan hukum pertama.
3. Robot harus melindungi keberadaannya, selama perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan hukum pertama dan kedua.
Kisah2 di novel ini nyaris tidak ada yg mirip dengan film laga dengan judul sama yang dibintangi Will Smith, kecuali ada robot yg memiliki anomali, dan sebuah massa otak artificial intelligence, dan tiga hukum di atas. Setiap kisah berhubungan dengan Dr. Susan Calvin, seorang "robo-psychologist", yang memecahkan sejumlah misteri anomali tingkah laku robot yang diakibatkan oleh konflik antara hukum robotic dan situasi yang dihadapi robot.
Gabungan antara psikologi, filosofi, logika yang penuh imajinasi dan sedikit humor, bacaan ini menggelitik pikiran dan sekaligus menghibur. Tapi jangan percaya begitu saja, silahkan baca sendiri. ^_^
2/13/2008
sajak-sajak di musim hujan
Menghabiskan masa kecil di kota yang sering sekali hujan, saya belajar mencintai hujan, menikmati hujan, merendam kaki di kubangan-kubangan kecil yang ditinggalkan hujan, menghirup pekat bau tanah yang basah, bersama segenap bumi mereguk berkat segar langit, merindukan bisikannya yang menggemuruh, dan menimba inspirasi dari suasana melankoli yang kerap dibawanya...
YANG AKU BUKAN
seratus butir pil tak membuatku kebal
lagi-lagi mendung menggantung
muram bergayut, asa terpuruk
hujan terlanjur turun
jangan kata bercermin
lebih baik transparan
aku tak ingin pulang
biar kutunggu musim gugur
biar kutemani bunga-bunga layu
seperti apakah janji?
pada siapa kutagih?
kata-kataku menguap bersama embun
langit ibarat wajah tanpa ekspresi
(kneedeepville, oktober 2003)
===============================
RECIPROCITY
dalam kereta argo gede
bandung-jakarta
melintas lekas melalui segala
yang terlalu familiar
tak perlu kuceritakan
sawah, bebek, rumah-rumah kumuh
deretan pohon pisang dan kebun singkong
anak-anak main bola di petak tanah kosong
semua begitu biasa
semua jalan untuk hari ini
hanya aku yang sibuk sendiri
meraba hidup di luar gerbong eksekutif
yang seperti berlari meninggalkanku
jangankan bersapa
sedang lambaian tanganku
saja
tak terlihat
(AG, 11 Januari 2004)
=============
CEMBURU
mungkin mungil pinggulnya
atau manis senyumnya
mungkin mulus wajahnya
atau asik gayanya
mungkin semua
yang tidak aku punya
mungkin aku berkaca
pada yang aku bukan
mungkin kau melihat
siapa aku mestinya
(lonely planet, 16/1/04)
===================
LADANG PEREMPUAN TANAH
gerak langkahku menapak menggerus tanah
aku ingin kamu semua melihat
ini jejakku, di sini berdiri kokoh
di atas telapak kaki yang keras kapalan
tak ada sorak tak ada bendera berarak
hanya perempuan menghirup wangi bumi di bawahnya
jari kaki berpeluk nyaman dengan tanah basah
seperti kasut buatan alam
melihat ke bawah aku makin yakin
di sini ladang kugarap
di sini benih kutanam
semata memenuhi rencana sang pencipta
yang menuntunku ke sini
(ec, febuari '04)
======================
BACA
kubuka mata
kucari kata
semesta bungkam
hanya suaraku
mengeja dalam hati
menyusun makna
merengguk arti
kutata dalam pikiran
sebuah perjalanan
menyeruak batas
waktu dan ruang
huruf-huruf berlari
membentuk imaji
warna warni dimensi
tak tersentuh
hawa dan raga
hanya lekat
dalam ingatan
BUKU
ini buku bacaan
tempatku menyelam
tempatku berlari
tempatku belajar
memberi arti
hidup lebih dalam
dari batas hari
dari batas bilik
ini buku dunia
tempatku berguru
pada orang-orang
yang sudah jauh
berjalan di depanku
KOREOGRAFI
mungkin orang pikir aku gila
melonjak berjingkrak tanpa irama
yang tak mereka dengar ternyata ada
walau hanya dalam kepala
bingar sebuah lagu siska
dalam gerak hidup bijana
dari cangkang hingga isinya
sempurna tangis dan tawanya
INI JAMU
ini jamu untuk haid
ini jamu untuk jerawat
ini jamu mules-mules
ini jamu biar langsing
ini jamu semangat di ranjang
ini jamu untuk anu
ini jamu biar itu
ini jamu supaya gini
ini jamu karena perlu
ini jamu segala jamu
ini jamu untuk aku
supaya gini biar ngga gitu
ini aku minum jamu
karena itu aku begini
(el cajon, spring 2004)
==============================
SUPER
kisah di langit seorang manusia super melintas
ternganga dunia tempatnya mentas
serba ini serba itu serba sempurna
wahai dewi, benarkah cacatmu tak ada?
selagi ia lewat di samping awan-awanku
terpaksa tertunduk tak kuat mataku silau
lebih baik kupandang bayangannya di tanah
terkekeh mengingat aku tak sendiri
benarkah manusia tak ada yang sempurna?
mungkin Gusti Pencipta Super Adil menimbang
untuk setiap orang super jelek super jahat super bodo
yang membebani manusia lain dengan kekurangannya
harus ada yang ngimbangi dengan kesupersegalabaikkannya
supaya dunia imbang layaknya ibu alam
mungkin betul mungkin salah
perlukah aku meroket ke langit seperti dia?
kupandang tanah di bawah kakiku
yang kukorek-korek dengan ranting super kecil
super nyaman sentosa tempatku berada
dasar takdirku bukan manusia super
(pagi2 tanpa super bihun, 8 April 2004)
YANG AKU BUKAN
seratus butir pil tak membuatku kebal
lagi-lagi mendung menggantung
muram bergayut, asa terpuruk
hujan terlanjur turun
jangan kata bercermin
lebih baik transparan
aku tak ingin pulang
biar kutunggu musim gugur
biar kutemani bunga-bunga layu
seperti apakah janji?
pada siapa kutagih?
kata-kataku menguap bersama embun
langit ibarat wajah tanpa ekspresi
(kneedeepville, oktober 2003)
===============================
RECIPROCITY
dalam kereta argo gede
bandung-jakarta
melintas lekas melalui segala
yang terlalu familiar
tak perlu kuceritakan
sawah, bebek, rumah-rumah kumuh
deretan pohon pisang dan kebun singkong
anak-anak main bola di petak tanah kosong
semua begitu biasa
semua jalan untuk hari ini
hanya aku yang sibuk sendiri
meraba hidup di luar gerbong eksekutif
yang seperti berlari meninggalkanku
jangankan bersapa
sedang lambaian tanganku
saja
tak terlihat
(AG, 11 Januari 2004)
=============
CEMBURU
mungkin mungil pinggulnya
atau manis senyumnya
mungkin mulus wajahnya
atau asik gayanya
mungkin semua
yang tidak aku punya
mungkin aku berkaca
pada yang aku bukan
mungkin kau melihat
siapa aku mestinya
(lonely planet, 16/1/04)
===================
LADANG PEREMPUAN TANAH
gerak langkahku menapak menggerus tanah
aku ingin kamu semua melihat
ini jejakku, di sini berdiri kokoh
di atas telapak kaki yang keras kapalan
tak ada sorak tak ada bendera berarak
hanya perempuan menghirup wangi bumi di bawahnya
jari kaki berpeluk nyaman dengan tanah basah
seperti kasut buatan alam
melihat ke bawah aku makin yakin
di sini ladang kugarap
di sini benih kutanam
semata memenuhi rencana sang pencipta
yang menuntunku ke sini
(ec, febuari '04)
======================
BACA
kubuka mata
kucari kata
semesta bungkam
hanya suaraku
mengeja dalam hati
menyusun makna
merengguk arti
kutata dalam pikiran
sebuah perjalanan
menyeruak batas
waktu dan ruang
huruf-huruf berlari
membentuk imaji
warna warni dimensi
tak tersentuh
hawa dan raga
hanya lekat
dalam ingatan
BUKU
ini buku bacaan
tempatku menyelam
tempatku berlari
tempatku belajar
memberi arti
hidup lebih dalam
dari batas hari
dari batas bilik
ini buku dunia
tempatku berguru
pada orang-orang
yang sudah jauh
berjalan di depanku
KOREOGRAFI
mungkin orang pikir aku gila
melonjak berjingkrak tanpa irama
yang tak mereka dengar ternyata ada
walau hanya dalam kepala
bingar sebuah lagu siska
dalam gerak hidup bijana
dari cangkang hingga isinya
sempurna tangis dan tawanya
INI JAMU
ini jamu untuk haid
ini jamu untuk jerawat
ini jamu mules-mules
ini jamu biar langsing
ini jamu semangat di ranjang
ini jamu untuk anu
ini jamu biar itu
ini jamu supaya gini
ini jamu karena perlu
ini jamu segala jamu
ini jamu untuk aku
supaya gini biar ngga gitu
ini aku minum jamu
karena itu aku begini
(el cajon, spring 2004)
==============================
SUPER
kisah di langit seorang manusia super melintas
ternganga dunia tempatnya mentas
serba ini serba itu serba sempurna
wahai dewi, benarkah cacatmu tak ada?
selagi ia lewat di samping awan-awanku
terpaksa tertunduk tak kuat mataku silau
lebih baik kupandang bayangannya di tanah
terkekeh mengingat aku tak sendiri
benarkah manusia tak ada yang sempurna?
mungkin Gusti Pencipta Super Adil menimbang
untuk setiap orang super jelek super jahat super bodo
yang membebani manusia lain dengan kekurangannya
harus ada yang ngimbangi dengan kesupersegalabaikkannya
supaya dunia imbang layaknya ibu alam
mungkin betul mungkin salah
perlukah aku meroket ke langit seperti dia?
kupandang tanah di bawah kakiku
yang kukorek-korek dengan ranting super kecil
super nyaman sentosa tempatku berada
dasar takdirku bukan manusia super
(pagi2 tanpa super bihun, 8 April 2004)
2/04/2008
Words2Ponder: from TAO TE CHING - Lao Tzu

The supreme good is like water,
which nourishes all things without trying to.
It is content with the low places that people disdain.
Thus it is like the Tao.
In dwelling, live close to the ground.
In thinking, keep to the simple.
In conflict, be fair and generous.
In governing, don't try to control.
In work, do what you enjoy.
In family life, be completely present.
When you are content to be simply yourself
and don't compare or compete,
everybody will respect you.
(Terjemahan bagian dari Tao Te Ching di atas diambil dari buku "the soothing soak, a bathtub reader", sebuah kumpulan cerita, puisi, essay, dan kata-kata bijak untuk dibaca di kamar mandi.)
imho: Obsesi Kita Pada Kulit Putih
Sekitar 50 tahun yang lalu, sepasang peneliti Kenneth dan Mamie Clark melakukan sebuah percobaan di Amerika, yang dikenal dengan “The Doll Experiment”. Dalam percobaan ini para peneliti tersebut menemukan bahwa anak-anak kulit hitam lebih senang bermain dengan boneka berwarna kulit putih, dengan alasan yang putih itu bersih dan baik, sementara yang berkulit gelap itu jelek dan kotor. Anak-anak tersebut menyadari warna kulit mereka sendiri. Kennet dan Mamie menyimpulkan hasil percobaan mereka sebagai bukti pengaruh rasisme dan stigmatisasi pada anak-anak. Pada masa ini rasisme dan pemisahan yang menempatkan masyarakat kulit hitam sebagai warga negara kelas dua di bawah kulit putih masih menjadi hal yang umum.
Kira2 50 tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, seorang gadis remaja Kiri Davis melakukan percobaan yang sama dan merekam hasilnya dalam film yang berjudul “A Girl Like Me”. Alangkah anehnya, ternyata di kala zaman sudah berubah, pembauran dan persamaan hak sudah menjadi kenyataan sehari2 di Amerika, ternyata Kiri memperoleh hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh pasangan Clarks. Mengapa sesudah sekian banyak perubahan, orang kulit hitam masih menganggap putih itu lebih baik?
Ada apa dengan kulit putih?
Di Indonesia, obsesi kita pada kulit putih juga sangat kentara. Terutama perempuan, selalu dipandang lebih menarik jika berkulit terang. Matahari jadi musuh utama kebanyakan kaum perempuan, karena tanpa perlindungan, matahari dapat menggelapkan warna kulit. Iklan2 produk kosmetik pemutih kulit begitu gencar mengisi media, dengan pesan2 bahwa gadis2 berkulit putih tidak hanya lebih cantik, tapi juga lebih sukses dan lebih cepat dapat jodoh. Perusahaan2 produsen kosmetik pun berlomba2 mengeluarkan produk2 pemutih baru. Bahkan rasanya sulit mendapatkan produk kecantikan, baik krim, lotion, atau sabun mandi yang tidak menggunakan zat pemutih kulit. Entah siapa yang memulai duluan, kampanye pemutihan kulit ini sudah begitu jauh menjadi bagian kehidupan perempuan Indonesia.
Memangnya kenapa kalau tidak putih? Sebagian orang ternyata minder hanya karena kulitnya tidak putih. Padahal kaitan warna kulit dengan kemampuan seseorang kan nyaris tidak ada. Tapi perempuan tetap merasa kurang menarik dengan kulit yang gelap. Ada yang bilang, kalau kulit gelap itu seperti orang yang kerjanya di ladang, petani, berarti miskin. Apa salahnya jadi petani? Benar2 membingungkan.
Apa kata orang kulit putih? Di Barat sana, orang kulit putih sering terlihat berlomba2 mencoklatkan kulit di bawah sinar matahari, yang di sini menjadi musuh utama. Menurut mereka, warna kulit kecoklatan itulah yang menarik dari segi kecantikan, maka produk2 pencoklat kulit (tanning lotion) pun laku di kalangan itu. Di Indonesia, yang putih ingin tetap putih.
Kalau dilihat dari segi praktisnya, kenapa kulit putih lebih baik? Tidak ada kelebihannya sebenarnya. Kulit memang mempunyai pigmen yang lebih bermacam2, beda halnya dengan gigi yang memang lebih baik putih daripada hitam. Tapi tetap saja, sebagian penduduk bumi ini lebih senang kulit putih daripada kulit yang lebih gelap.
Bagian dari evolusi?
Saya pikir, seperti layaknya di kaum kulit hitam di Amerika yang melalui bergenerasi2 di bawah perbudakan dan diskriminasi kaum kulit putih, kita pun sebagai bangsa pernah dijajah kaum kulit putih hingga berabad-abad. Mungkin, dari sekian generasi yang melalui kehidupan tertindas di bawah kulit putih ini kemudian ada semacam sifat inferior yang tertanam dari generasi ke generasi melalui sikap dan tutur kata, semakin dalam hingga ke tingkat gen, sehingga ketika zaman sudah berubah, rasa inferior terhadap kulit putih itu tetap ada. Mungkinkah?
Teori saya ini bukan tidak mendasar, sebab sebuah penelitian di University of Newcastle, UK menunjukkan adanya hubungan antara evolusi dan kesukaan kita pada warna-warna tertentu. Menurut para peneliti itu, kesukaan perempuan pada warna2 merah dan pink di sebabkan karena sepanjang masa evolusi manusia, perempuan lebih banyak bekerja sebagai pengumpul makanan dan merawat keluarga, sehingga menumbuhkan kesukaan atau perhatian lebih pada warna2 merah yang diasosiasikan pada warna2 buah yang matang dan wajah2 yang sehat. Sedangkan untuk laki2, warna menjadi kurang penting, sebab sebagai pemburu mereka hanya perlu memperhatikan sesuatu yang gelap untuk ditembak. (Lihat Reader’s Digest Asia January 2008).
Nah, kalau seandainya benar preferensi kita pada warna2 tertentu itu adalah imprint hasil evolusi, jadi sah2 saja kah kita memuja kulit putih? Silahkan Anda jawab sendiri.
Kira2 50 tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, seorang gadis remaja Kiri Davis melakukan percobaan yang sama dan merekam hasilnya dalam film yang berjudul “A Girl Like Me”. Alangkah anehnya, ternyata di kala zaman sudah berubah, pembauran dan persamaan hak sudah menjadi kenyataan sehari2 di Amerika, ternyata Kiri memperoleh hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh pasangan Clarks. Mengapa sesudah sekian banyak perubahan, orang kulit hitam masih menganggap putih itu lebih baik?
Ada apa dengan kulit putih?
Di Indonesia, obsesi kita pada kulit putih juga sangat kentara. Terutama perempuan, selalu dipandang lebih menarik jika berkulit terang. Matahari jadi musuh utama kebanyakan kaum perempuan, karena tanpa perlindungan, matahari dapat menggelapkan warna kulit. Iklan2 produk kosmetik pemutih kulit begitu gencar mengisi media, dengan pesan2 bahwa gadis2 berkulit putih tidak hanya lebih cantik, tapi juga lebih sukses dan lebih cepat dapat jodoh. Perusahaan2 produsen kosmetik pun berlomba2 mengeluarkan produk2 pemutih baru. Bahkan rasanya sulit mendapatkan produk kecantikan, baik krim, lotion, atau sabun mandi yang tidak menggunakan zat pemutih kulit. Entah siapa yang memulai duluan, kampanye pemutihan kulit ini sudah begitu jauh menjadi bagian kehidupan perempuan Indonesia.
Memangnya kenapa kalau tidak putih? Sebagian orang ternyata minder hanya karena kulitnya tidak putih. Padahal kaitan warna kulit dengan kemampuan seseorang kan nyaris tidak ada. Tapi perempuan tetap merasa kurang menarik dengan kulit yang gelap. Ada yang bilang, kalau kulit gelap itu seperti orang yang kerjanya di ladang, petani, berarti miskin. Apa salahnya jadi petani? Benar2 membingungkan.
Apa kata orang kulit putih? Di Barat sana, orang kulit putih sering terlihat berlomba2 mencoklatkan kulit di bawah sinar matahari, yang di sini menjadi musuh utama. Menurut mereka, warna kulit kecoklatan itulah yang menarik dari segi kecantikan, maka produk2 pencoklat kulit (tanning lotion) pun laku di kalangan itu. Di Indonesia, yang putih ingin tetap putih.
Kalau dilihat dari segi praktisnya, kenapa kulit putih lebih baik? Tidak ada kelebihannya sebenarnya. Kulit memang mempunyai pigmen yang lebih bermacam2, beda halnya dengan gigi yang memang lebih baik putih daripada hitam. Tapi tetap saja, sebagian penduduk bumi ini lebih senang kulit putih daripada kulit yang lebih gelap.
Bagian dari evolusi?
Saya pikir, seperti layaknya di kaum kulit hitam di Amerika yang melalui bergenerasi2 di bawah perbudakan dan diskriminasi kaum kulit putih, kita pun sebagai bangsa pernah dijajah kaum kulit putih hingga berabad-abad. Mungkin, dari sekian generasi yang melalui kehidupan tertindas di bawah kulit putih ini kemudian ada semacam sifat inferior yang tertanam dari generasi ke generasi melalui sikap dan tutur kata, semakin dalam hingga ke tingkat gen, sehingga ketika zaman sudah berubah, rasa inferior terhadap kulit putih itu tetap ada. Mungkinkah?
Teori saya ini bukan tidak mendasar, sebab sebuah penelitian di University of Newcastle, UK menunjukkan adanya hubungan antara evolusi dan kesukaan kita pada warna-warna tertentu. Menurut para peneliti itu, kesukaan perempuan pada warna2 merah dan pink di sebabkan karena sepanjang masa evolusi manusia, perempuan lebih banyak bekerja sebagai pengumpul makanan dan merawat keluarga, sehingga menumbuhkan kesukaan atau perhatian lebih pada warna2 merah yang diasosiasikan pada warna2 buah yang matang dan wajah2 yang sehat. Sedangkan untuk laki2, warna menjadi kurang penting, sebab sebagai pemburu mereka hanya perlu memperhatikan sesuatu yang gelap untuk ditembak. (Lihat Reader’s Digest Asia January 2008).
Nah, kalau seandainya benar preferensi kita pada warna2 tertentu itu adalah imprint hasil evolusi, jadi sah2 saja kah kita memuja kulit putih? Silahkan Anda jawab sendiri.
1/31/2008
iREAD: Angin pun Berbisik

Judul: Angin pun Berbisik, Kumpulan Sajak Cinta
Penulis: Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah, Zeffa Yurihana
Jenis: Antologi puisi
Ada dua hal yang unik dari buku ini. Pertama, salah satu penulisnya, yakni Irwan Dwi Kustanto, adalah seorang tunanetra. Kedua, ketiga penulis buku ini datang dari satu keluarga yang tinggal di dua kota berbeda, dan seringkali berkomunikasi melalui puisi. Buku ini diluncurkan kira2 seminggu yang lalu pada tanggal 23 Januari 2008, dalam sebuah acara di Gedung Kesenian Jakarta. Hasil penjualan buku ini sebagian akan diserahkan untuk membantu program 1000buku yang digalangkan oleh Mitranetra, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan tunanetra di Indonesia (lihat www.mitranitra.net).
Saya tidak ingin menilai dari segi sastranya secara teknis, karena saya sendiri hanya penyair amatir yang menulis untuk diri sendiri. Tapi bagaimana puisi2 di sini menyentuh saya, dan mungkin menyentuh Anda juga jika Anda membacanya, bukan dari kata2nya, tapi perasaan yang menciptakan kata2 tersebut. Antara anggota keluarga cinta itu mengalir, dan dari dunia yang gelap, cinta itu berwarna.
Tapi jangan percaya begitu saja, silahkan beli dan baca sendiri. ^_^
Ketik REG Hati-hati Iklan TV di Jam Tayang untuk Anak
Masa jeda acara televisi seringkali diisi dengan iklan yang ditujukan pada target pemirsa program televisi tersebut. Makanya iklan susu, snack, dan jajanan lain seringkali mengisi masa jeda tayangan kartun yang ditujukan pada anak2. Sayangnya, entah kenapa, sekarang makin banyak iklan2 lain yang seharusnya tidak ditujukan pada anak2 ikut mengisi jeda antara tayangan kartun tersebut. Iklan2 yang akhir2 ini makin marak adalah yang terutama menawarkan jasa lewat sms, seperti ramalan, chat&date, ngobrol dgn selebriti, humor, pesan mesra, dan entah apa lagi. Service ini tidak murah, yang bilang "murah" tarifnya Rp1000/sms, atau sekitar 4kali sms biasa. Yg lain, dengan tulisan super kecil hampir tak terbaca, menyebutkan tarifnya Rp2000/sms, atau
8 kali sms biasa, bahkan ada yang sampai Rp5000/sms! Selain itu, service sms semacam ini tidak pantas ditawarkan kepada anak2, tapi stasiun televisi tampaknya tidak peduli, karena fokusnya tidak jauh dari Rp, tidak jauh beda dengan para penjual jasa sms yang hanya ingin meraup keuntungan sebesar2nya dari setiap insan pemilik hp.
HP sudah bukan barang aneh buat anak SD jaman sekarang, dari model hp, lagu2 ringtones, hingga games, sudah jadi trend di kalangan siswa, sehingga terlepas dari faktor kebutuhan, anak2 jadi pengguna hp yang lebih banyak dikendalikan oleh faktor ikut2an. Memang hp jadi alat bantu yang sangat berguna karena memampukan anak untuk mengontak orang tua setiap saat, tapi tanpa pengendalian dan pengawasan yang baik, hp bisa jadi masalah besar untuk dompet. Dari download lagu, games, berbagai sms hiburan, semua jadi sumber penghasilan bagi penyedia jasa hp yang melihat celah bisnis dari keinginan orang untuk meng-upgrade hpnya dari alat komunikasi menjadi alat hiburan dan identitas diri. Sayangnya, anak2 pun terbawa2, padahal dari seluruh lapisan masyarakat, anak2lah yang paling tidak mampu membiayai pengeluaran dari pemakaian hpnya.
Saya kebetulan sudah mulai melihat gejala2 tidak beres pada pemakaian hp oleh anak2 yang mulai terpengeruh iklan2 televisi tersebut. Awal2nya hanya coba2, kan katanya "murah", "cuma" 1000rupiah/sms, bisa menang ini itu. Meskipun tidak menang, tapi makin banyak tawaran2 yg kemudian masuk ke inbox sms, yang kembali mengundang si anak untuk ikut lebih banyak lagi ketik REG.... Tanpa terasa habis sudah
pulsanya. Dari situ serentetan masalah pun dimulai.
Saya tidak tahu bagaimana mengontrol iklan di televisi, tapi saya pikir tidak ada salahnya kita semua sesama orang yang peduli masa depan anak2 untuk mulai mengajar anak2 supaya lebih awas terhadap tawaran2 atau ajakan2 semacam itu. Jangan sekedar melarang atau menentukan berapa uang pulsa sebulan, tetapi ajak anak berpikir lebih
jauh untuk menentukan sikap. Misalnya, kalau ada iklan orang berpakaian gelap2 menawarkan jasa ramalan, ajak anak berdiskusi tentang tujuan iklan tsb. Dengan mengajak anak berpikir kritis, mudah2an saat dia bertemu situasi di mana kita tidak ada untuk dimintai nasihat, dia bisa mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
8 kali sms biasa, bahkan ada yang sampai Rp5000/sms! Selain itu, service sms semacam ini tidak pantas ditawarkan kepada anak2, tapi stasiun televisi tampaknya tidak peduli, karena fokusnya tidak jauh dari Rp, tidak jauh beda dengan para penjual jasa sms yang hanya ingin meraup keuntungan sebesar2nya dari setiap insan pemilik hp.
HP sudah bukan barang aneh buat anak SD jaman sekarang, dari model hp, lagu2 ringtones, hingga games, sudah jadi trend di kalangan siswa, sehingga terlepas dari faktor kebutuhan, anak2 jadi pengguna hp yang lebih banyak dikendalikan oleh faktor ikut2an. Memang hp jadi alat bantu yang sangat berguna karena memampukan anak untuk mengontak orang tua setiap saat, tapi tanpa pengendalian dan pengawasan yang baik, hp bisa jadi masalah besar untuk dompet. Dari download lagu, games, berbagai sms hiburan, semua jadi sumber penghasilan bagi penyedia jasa hp yang melihat celah bisnis dari keinginan orang untuk meng-upgrade hpnya dari alat komunikasi menjadi alat hiburan dan identitas diri. Sayangnya, anak2 pun terbawa2, padahal dari seluruh lapisan masyarakat, anak2lah yang paling tidak mampu membiayai pengeluaran dari pemakaian hpnya.
Saya kebetulan sudah mulai melihat gejala2 tidak beres pada pemakaian hp oleh anak2 yang mulai terpengeruh iklan2 televisi tersebut. Awal2nya hanya coba2, kan katanya "murah", "cuma" 1000rupiah/sms, bisa menang ini itu. Meskipun tidak menang, tapi makin banyak tawaran2 yg kemudian masuk ke inbox sms, yang kembali mengundang si anak untuk ikut lebih banyak lagi ketik REG
pulsanya. Dari situ serentetan masalah pun dimulai.
Saya tidak tahu bagaimana mengontrol iklan di televisi, tapi saya pikir tidak ada salahnya kita semua sesama orang yang peduli masa depan anak2 untuk mulai mengajar anak2 supaya lebih awas terhadap tawaran2 atau ajakan2 semacam itu. Jangan sekedar melarang atau menentukan berapa uang pulsa sebulan, tetapi ajak anak berpikir lebih
jauh untuk menentukan sikap. Misalnya, kalau ada iklan orang berpakaian gelap2 menawarkan jasa ramalan, ajak anak berdiskusi tentang tujuan iklan tsb. Dengan mengajak anak berpikir kritis, mudah2an saat dia bertemu situasi di mana kita tidak ada untuk dimintai nasihat, dia bisa mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
1/14/2008
iREAD: The Butcher Boy - Patrick McCabe

Judul: The Butcher Boy
Penulis: Patrick McCabe
Jenis: Novel
Penghargaan: Booker Prize Nominee
Kata saya: menarik sekali! Buku ini tampaknya salah satu bacaan wajib waktu di salah satu mata kuliah adik saya, melihat catatan2 di tepi halaman yang ditulis dengan pensil. Berbahagialah yang mengambil mata kuliah tersebut. Buku ini menceritakan kisah seorang tokoh Francis Brady, dari sudut pandang tokoh itu sendiri. Menariknya, karakter ini berkembang menghadapi masalah2 dalam hidupnya (ortu yg kurang beres, teman yg pindah ke lain hati), yang membawa dia tumbuh dari bocah yang penuh khayal menjadi seorang dewasa yang nyaris hilang kewarasannya. Antara lucu, sedih, dan mengerikan, Patrick McCabe dengan penuh kendali mengantar kita menyusuri pikiran Francis yang tak terkendali. Kadang2 kita harus sedikit memutar otak, menggunakan imajinasi untuk mengetahui kejadian yg sebenarnya dalam cerita, dan mana yang merupakan reaksi psikologis Francis terhadap kejadian tersebut.
Buku ini mengingatkan saya pada: The Catcher In The Rye karya J.D. Salinger, tapi karakter Holden Caufield kalah seru dengan Francis Brady.
Tapi jangan percaya begitu saja, silahkan baca sendiri.
Puisi: Sajak-sajak Rempoa

*sajak sabtu pagi*
pagi ini aku ingin menulis puisi
tentang petikan gitar yang mengelus telingaku
tentang kopi susu manis di cangkirku
tentang deru motor di jalan depan rumahku
tentang daun-daun yang berguguran ditiup angin
tentang layangan putus tergeletak di halaman
tentang semua yang mewarnai dunia
detik ini saja
-rempoa, 11 juni 2005-
*simply biological*
love is
:simply biological
romance is
:simply an illusion
jumbled pictures of sunsets, roses, wines and candle lights
just to make love
:seem prettier than it is
to make humans' efforts to pass their genes
:seem more than
simply biological
-rempoa, 13 Desember 2005-
*ekuilibrium*
tidak banyak yang bisa terungkap saat ini
tidak lewat kata
tidak lewat mata
tidak juga lewat ujung jarimu
tapi tak apa
di sini tidak ada pertanyaan
sudah kujawab keraguan
sudah kutemukan pijakan nyaman
tempat kita menjaga jarak
di sinilah ekuilibrium
*sajak pagi*
satu malam lagi terlewati
satu pagi lagi aku menggali
mencari keramaian jauh jauh ke dalam hati
tidak ada suara-suara lain
hanya bisik-bisik nurani
sibuk bebenah menyusun kata-kata
yang akan menerangi hari ini
-rempoa, 30 juni 2006-
IMHO: Seragam vs Baju Bebas
Sewaktu pemda Gowa melepaskan siswa dari seragam, sedikit ramai hal ini dibahas. Sebagian orang merasa seragam tetap dibutuhkan, mengingat tujuannya adalah menghindari terlihatnya perbedaaan status sosial di kalangan siswa.
Saya pikir meniadakan seragam itu belum tentu jelek, malah bisa berdampak positif, asal sekolah dan pendidik siap menghadapi tantangan tersebut.
Seragam kan tujuannya meniadakan keanekaragaman, khususnya dlm hal ini keanekaragaman penampilan, yg dianggap merepresentasikan status ekonomi individu, yakni berdasarkan asumsi bahwa yg kaya berpenampilan kaya, dan yg miskin berpenampilan miskin. Dengan adanya seragam di sekolah, diharapkan siswa tidak melihat perbedaan antara kaya dan miskin, tapi sejauh manakah gagasan ini efektif?
Kalau dipikir2 lagi, kenapa perbedaan antara kaya dan miskin itu harus dihindari? Apakah anak-anak cenderung bergaul dengan teman-teman yang sama taraf ekonominya? Kalau ya, apakah keberadaan seragam efektif menghindari hal ini? Mengingat siswa menghabiskan waktu sekitar 6-9 jam di sekolah, apakah pengaruh pergaulan di luar jam sekolah lebih besar dalam menentukan sikap sosial mereka?
Sebetulnya pesan apa yang ditangkap anak-anak, saat mereka dipakaikan seragam? Kalau kebetulan seragamnya berbeda dgn seragam sekolah2 lain, dia mungkin bangga (atau malu? ^_^) bahwa di luar sekolah semua tahu dia siswa sekolah anu. Di sisi lain, mungkin juga siswa berpikir, aku pakai seragam, karena aku ngga boleh kelihatan kaya/miskin di antara teman2ku. Lebih jauh dari itu, pesan yang mungkin secara tidak sadar tertanam dalam pikirannya adalah: penampilan yang menunjukkan status sosial adalah penting! Mungkin ini sebabnya saya sering melihat anak2 abg jalan2 di mall dengan model rambut, model baju, celana, sepatu, tas yg nyaris sama, mengikuti trend terkini. Tampaknya, mereka tidak berani tampil beda, karena kalau beda nanti dianggap katro, kuper, dll. Sebegitu pentingnya penampilan ini di mata mereka!
Menurut saya, dalam pendidikan anak yang seharusnya juga mencakup inteligensi sosial, keanekaragaman itu harusnya jangan ditutupi dengan seragam. Toh pada kenyataannya, tidak semua anak yang kaya ingin terlihat kaya, dan yang miskin terlihat miskin, semua itu tergantung dari keluarganya. Biarlah anak-anak mengekspresikan dirinya melalui penampilan, dan biarkan mereka melihat perbedaan yang ada. Lalu sementara mereka mengobservasi, tugas pendidik adalah mengarahkan cara berpikir anak, untuk melihat apa yang penting, penampilan di luar atau karakter di dalam? Di sinilah anak-anak dapat belajar untuk menilai segala sesuatu tidak hanya dari hal2 yang berbau superfisial atau apa yang terlihat, tapi lebih jauh ke dalam setiap sosok individu. Melalui keanekaragaman, anak juga dapat belajar berempati, menempatkan dirinya di posisi orang yg berbeda dengannya.
Melepaskan seragam bukan berarti melepaskan aturan. Sekolah perlu juga menetapkan dress code yang baik, misalnya pakaian boleh bebas tapi harus sopan, tidak memperlihatkan pakaian dalam, jangan memakai perhiasan berharga, jangan memakai asesoris yang membahayakan keselamatan pribadi maupun orang lain, jangan membawa asesoris yang tidak dibutuhkan untuk keperluan sekolah, dll. Ajak siswa untuk ikut membuat aturan tersebut, supaya ikut berpikir lebih jauh dalam mengatur penampilannya.
Pengalaman saya sekolah di luar negeri, ternyata ketiadaan seragam itu bukan hal yang menyusahkan. Ternyata teman2 saya di sana berpakaian lebih sesuai kebutuhan, kenyamanan, dan ekspresi diri, ketimbang keinginan untuk menunjukkan status sosialnya. Tanpa mengunjungi rumah teman2, saya tidak tahu apakah kaya miskinnya. Dan kalau ternyata kaya atau miskin, so what, gitu loh. Memang sifat org sono lebih individualistis, tapi bukan berarti melulu jelek. Individualisme yang baik yaitu menghargai keunikan diri, jati diri, karakter yang kuat dan tidak tergantung pada penilaian dunia luar yang mematikan kreatifitas.
Jadi, kalau biaya seragam terasa berat buat ortu, dan tidak bisa dibebankan ke sekolah, apalagi ke APBD, saya rasa tidak ada salahnya anak2 disuruh pakai baju bebas. Mendingan duitnya buat nambah buku perpus. Paling tiap hari ada waktu ekstra di depan lemari baju untuk mikir, hari ini pakai baju apa ya?
Saya pikir meniadakan seragam itu belum tentu jelek, malah bisa berdampak positif, asal sekolah dan pendidik siap menghadapi tantangan tersebut.
Seragam kan tujuannya meniadakan keanekaragaman, khususnya dlm hal ini keanekaragaman penampilan, yg dianggap merepresentasikan status ekonomi individu, yakni berdasarkan asumsi bahwa yg kaya berpenampilan kaya, dan yg miskin berpenampilan miskin. Dengan adanya seragam di sekolah, diharapkan siswa tidak melihat perbedaan antara kaya dan miskin, tapi sejauh manakah gagasan ini efektif?
Kalau dipikir2 lagi, kenapa perbedaan antara kaya dan miskin itu harus dihindari? Apakah anak-anak cenderung bergaul dengan teman-teman yang sama taraf ekonominya? Kalau ya, apakah keberadaan seragam efektif menghindari hal ini? Mengingat siswa menghabiskan waktu sekitar 6-9 jam di sekolah, apakah pengaruh pergaulan di luar jam sekolah lebih besar dalam menentukan sikap sosial mereka?
Sebetulnya pesan apa yang ditangkap anak-anak, saat mereka dipakaikan seragam? Kalau kebetulan seragamnya berbeda dgn seragam sekolah2 lain, dia mungkin bangga (atau malu? ^_^) bahwa di luar sekolah semua tahu dia siswa sekolah anu. Di sisi lain, mungkin juga siswa berpikir, aku pakai seragam, karena aku ngga boleh kelihatan kaya/miskin di antara teman2ku. Lebih jauh dari itu, pesan yang mungkin secara tidak sadar tertanam dalam pikirannya adalah: penampilan yang menunjukkan status sosial adalah penting! Mungkin ini sebabnya saya sering melihat anak2 abg jalan2 di mall dengan model rambut, model baju, celana, sepatu, tas yg nyaris sama, mengikuti trend terkini. Tampaknya, mereka tidak berani tampil beda, karena kalau beda nanti dianggap katro, kuper, dll. Sebegitu pentingnya penampilan ini di mata mereka!
Menurut saya, dalam pendidikan anak yang seharusnya juga mencakup inteligensi sosial, keanekaragaman itu harusnya jangan ditutupi dengan seragam. Toh pada kenyataannya, tidak semua anak yang kaya ingin terlihat kaya, dan yang miskin terlihat miskin, semua itu tergantung dari keluarganya. Biarlah anak-anak mengekspresikan dirinya melalui penampilan, dan biarkan mereka melihat perbedaan yang ada. Lalu sementara mereka mengobservasi, tugas pendidik adalah mengarahkan cara berpikir anak, untuk melihat apa yang penting, penampilan di luar atau karakter di dalam? Di sinilah anak-anak dapat belajar untuk menilai segala sesuatu tidak hanya dari hal2 yang berbau superfisial atau apa yang terlihat, tapi lebih jauh ke dalam setiap sosok individu. Melalui keanekaragaman, anak juga dapat belajar berempati, menempatkan dirinya di posisi orang yg berbeda dengannya.
Melepaskan seragam bukan berarti melepaskan aturan. Sekolah perlu juga menetapkan dress code yang baik, misalnya pakaian boleh bebas tapi harus sopan, tidak memperlihatkan pakaian dalam, jangan memakai perhiasan berharga, jangan memakai asesoris yang membahayakan keselamatan pribadi maupun orang lain, jangan membawa asesoris yang tidak dibutuhkan untuk keperluan sekolah, dll. Ajak siswa untuk ikut membuat aturan tersebut, supaya ikut berpikir lebih jauh dalam mengatur penampilannya.
Pengalaman saya sekolah di luar negeri, ternyata ketiadaan seragam itu bukan hal yang menyusahkan. Ternyata teman2 saya di sana berpakaian lebih sesuai kebutuhan, kenyamanan, dan ekspresi diri, ketimbang keinginan untuk menunjukkan status sosialnya. Tanpa mengunjungi rumah teman2, saya tidak tahu apakah kaya miskinnya. Dan kalau ternyata kaya atau miskin, so what, gitu loh. Memang sifat org sono lebih individualistis, tapi bukan berarti melulu jelek. Individualisme yang baik yaitu menghargai keunikan diri, jati diri, karakter yang kuat dan tidak tergantung pada penilaian dunia luar yang mematikan kreatifitas.
Jadi, kalau biaya seragam terasa berat buat ortu, dan tidak bisa dibebankan ke sekolah, apalagi ke APBD, saya rasa tidak ada salahnya anak2 disuruh pakai baju bebas. Mendingan duitnya buat nambah buku perpus. Paling tiap hari ada waktu ekstra di depan lemari baju untuk mikir, hari ini pakai baju apa ya?
1/05/2008
Puisi: salah 3
-salah-
kelokan yang salah
aku mengambil langkah
berhenti aku di tengah-tengah
menatap matahari yang jengah
masih ada waktukah tuk berbalik?
-teman-
teman yang tadi menemaniku ke sini
lenyap di tengah lampu warna-warni
di pesta ini aku ternyata sendiri
seperti Alice di Negeri Mimpi
-You're not always on my mind-
the whistle of my kettle
doesn't make me think about your favorite coffee
a whiff of your perfume
doesn't make me want to touch your skin
the box of tissue by my bed
doesn't remind me of your morning allergies
the sight of my own stubby fingers
doesn't make me miss your long beautiful ones
the jingle of my keys
doesn't remind me of the day you were leaving
the words of my poems
are not about you at all
(cimanggis, 11 januari 2007)
kelokan yang salah
aku mengambil langkah
berhenti aku di tengah-tengah
menatap matahari yang jengah
masih ada waktukah tuk berbalik?
-teman-
teman yang tadi menemaniku ke sini
lenyap di tengah lampu warna-warni
di pesta ini aku ternyata sendiri
seperti Alice di Negeri Mimpi
-You're not always on my mind-
the whistle of my kettle
doesn't make me think about your favorite coffee
a whiff of your perfume
doesn't make me want to touch your skin
the box of tissue by my bed
doesn't remind me of your morning allergies
the sight of my own stubby fingers
doesn't make me miss your long beautiful ones
the jingle of my keys
doesn't remind me of the day you were leaving
the words of my poems
are not about you at all
(cimanggis, 11 januari 2007)
Words2Ponder: For God to me
For God to me, it seems
is a verb
not a noun,
proper or improper;
is the articulation
not the art...
is loving,
not the abstraction of love...
Yes, God is a verb,
the most active, connoting the vast harmonic
reordering of the universe
from the unleashed chaos of energy.
-Buckminster Fuller
is a verb
not a noun,
proper or improper;
is the articulation
not the art...
is loving,
not the abstraction of love...
Yes, God is a verb,
the most active, connoting the vast harmonic
reordering of the universe
from the unleashed chaos of energy.
-Buckminster Fuller
Subscribe to:
Posts (Atom)