9/03/2010

10 years of marriage: What I’ve learned so far

10 years doodle

"I'm sorry"s and "Thank you"s are as important as "I love you"s. Both show that you don't take each other for granted.

What I've learned so far: To live happily ever after is a choice you make, not a destination marked  by a fairy tale wedding. It is a journey, and it begins with you, with an open heart and an open mind. The presence of (an)other person(s) is to share, and to add color and flavor to what you already have.

Trust should not come from knowing (or hoping) the other will never disappoint you, but rather from your own strength in building the courage within you so that you TRUST yourself to be able to make everything ok, no matter what happens.

We're not like two pieces of puzzle that fit perfectly. In order to function perfectly, we each need to be whole as an individual. That way one can give freely to the other and to others, like an overflowing cup.

11/21/2008

Guru atau Preman?

Seorang ibu dari seorang pelajar SMK di daerah Cileungsi mengeluh. Guru kelas anaknya baru saja mengadakan razia telepon genggam. Menurut si ibu, berdasarkan cerita anaknya, 2 karung hp berhasil dikumpulkan. Anehnya, untuk memperoleh hpnya kembali, setiap siswa harus mengeluarkan uang Rp 20.000 yang harus disetorkan kepada guru tersebut. Bisa dibayangkan banyaknya uang yang diperoleh guru tersebut. Menurut si ibu, sang guru mengancam akan mempersulit siswa yang ortunya menantang kebijakan tersebut. Sang ibu mengeluh karena hp tersebut sangat penting untuk berkomunikasi dengan sang anak yang rumahnya jauh sehingga sering butuh dijemput jika kesulitan menemukan kendaraan umum. Dengan terpaksa hpnya ditebus oleh si ibu yang kerjanya sehari-hari sebagai pembantu rumah tangga.

Kalau dipikir-pikir, apa sih tujuan razia hp tersebut? Saya bisa mengerti kalau siswa dilarang menggunakan hp di kelas. Saya juga bisa mengerti kalau hp yang ditemukan memiliki gambar/video yang mengandung unsur seksual/kekerasan/dll lantas disita oleh pihak sekolah. Tapi untuk mengambil hp milik siswa, kemudian menarik biaya pengembalian hp tersebut saya pikir ini mirip pemerasan a la preman. Apakah tujuannya untuk membuat para siswa jera membawa hp ke sekolah? Jelas-jelas hp itu penting untuk sebagian siswa, bukan semata-mata mainan. Kalau memang dilarang digunakan di dalam kelas, kenapa tidak disimpan saja selama jam pelajaran di ruang guru misalnya, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Saya tidak menutup kemungkinan adanya unsur hiperbola dari cerita yang disampaikan oleh ibu ini, tapi tetap saja, saya yakin ada unsur kebenarannya. Saya pikir aneh sekali cara berpikir guru dan sekolah ini. Pakai mengancam lagi, akan mempersulit siswa jika orang tua memprotes kebijakannya. Diperlakukan dengan cara preman seperti ini, tidaklah heran begitu banyak preman di jalanan, bahkan di berbagai instansi pemerintahan. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari...

7/18/2008

Sumbangan (tidak) Sukarela untuk The Jungle Water Adventure

Musim liburan, seperti biasa tempat-tempat hiburan dipadati pengunjung dari berbagai daerah. Para pengelola tempat hiburan pun meraup keuntungan besar di masa-masa ini. Sayangnya, tampaknya tidak banyak tempat hiburan yang memperhitungkan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Salah satunya adalah The Jungle Water Adventure di Bogor Nirwana Residence. Kamis, 10 Juli 2008, saya bersama keluarga kakak saya berkunjung ke The Jungle. Tidak satu pun dari kami yang pernah ke sana. Gencarnya iklan The Jungle membuat keluarga kakak yang tinggal di luar Jawa tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut.

Beberapa ratus meter dari lokasi, BNR terlihat sedang membangun proyek ruko di kiri kanan jalan. Udara penuh debu dan kebul hingga ke pelataran parkir The Jungle. Di halaman parkir tampak penuh kendaraan, tidak heran memang, karena musim liburan sekolah. Tapi kami sama sekali tidak menyangka apa yang kami lihat di dalam. Setelah membayar karcis Rp 60.000/orang (kami berlima, jadi total Rp 300.000), kami pun masuk. Karcis masuk naik dari Rp 50.000/orang, dan tidak seperti yang sempat saya baca di beberapa website sebelumnya, kami tidak diberikan kartu deposit elektronik yang bisa direfund, tapi hanya karcis kertas.

Begitu masuk ke dalam, kami melihat suasana yang penuh, padat dan ramai. Semakin jauh kami masuk ke dalam, niat kami menikmati liburan di tempat itu semakin pupus. Kolam-kolam yang seharusnya bening jernih tidak lagi demikian. Udara pun tercium aroma tak sedap, mungkin dari keringat, bau makanan, dan entah apa lagi. Begitu banyak orang dan tidak tersedianya tempat duduk yang mencukupi, sehingga banyak yang menggelar tikar/handuk di mana saja. Di berbagai tempat orang makan seenaknya hingga berceceran ke dalam kolam. Melewati tempat ganti baju/kamar mandi tercium bau pesing yang menyengat. Melihat ini semua, saya dan kakak saya sepakat tidak akan menggunakan fasilitas apapun di tempat ini. Anak-anak kami pun, yang tadinya begitu bersemangat mau berenang hanya berdiri tercengang2 melihat sekelilingnya. Tanpa perlu diyakinkan mereka setuju untuk pulang tanpa berenang.

Karena sama sekali tidak menggunakan fasilitas apa pun yang ada, kami meminta refund ke petugas tiket. Permintaan kami ditolak, dengan alasan seharusnya kami melihat situasi dulu sebelum membeli tiket. Hal ini tentunya tidak mungkin, mengingat kami tidak tahu sebesar apa fasilitas yang ada dan berapa orang yang ada di dalam. Seandainya manajemen waterpark peduli kenyamanan pengunjung tentunya akan bersedia menerima resiko pengunjung yang minta refund jika tidak dapat menggunakan fasilitas yang tersedia karena alasan kenyamanan akibat padatnya pengunjung. Di sini pihak manajemen bertindak seolah2 fasilitas yang disediakan tidak memiliki batas tampung pengunjung, dan seenaknya saja menjual tiket dan meraup keuntungan sebanyak2nya tanpa mempedulikan konsumennya.

Kami pun pulang dengan kecewa dan berjanji tidak akan kembali lagi ke The Jungle Water Adventure dan tidak merekomendasikan teman-teman kami ke sana. Uang Rp 300.000 melayang begitu saja. Ternyata bukan kami saja yang kecewa. Setelah berbicara dengan beberapa orang lain yang pernah ke sana, mereka pun punya pengalaman buruk yang serupa, dan tidak berniat untuk kembali ke sana. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran untuk manajemen The Jungle Water Adventure dan pemilik bisnis lainnya agar tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat tanpa etika bisnis dan customer service yang baik.