Musim liburan, seperti biasa tempat-tempat hiburan dipadati pengunjung dari berbagai daerah. Para pengelola tempat hiburan pun meraup keuntungan besar di masa-masa ini. Sayangnya, tampaknya tidak banyak tempat hiburan yang memperhitungkan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Salah satunya adalah The Jungle Water Adventure di Bogor Nirwana Residence. Kamis, 10 Juli 2008, saya bersama keluarga kakak saya berkunjung ke The Jungle. Tidak satu pun dari kami yang pernah ke sana. Gencarnya iklan The Jungle membuat keluarga kakak yang tinggal di luar Jawa tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut.
Beberapa ratus meter dari lokasi, BNR terlihat sedang membangun proyek ruko di kiri kanan jalan. Udara penuh debu dan kebul hingga ke pelataran parkir The Jungle. Di halaman parkir tampak penuh kendaraan, tidak heran memang, karena musim liburan sekolah. Tapi kami sama sekali tidak menyangka apa yang kami lihat di dalam. Setelah membayar karcis Rp 60.000/orang (kami berlima, jadi total Rp 300.000), kami pun masuk. Karcis masuk naik dari Rp 50.000/orang, dan tidak seperti yang sempat saya baca di beberapa website sebelumnya, kami tidak diberikan kartu deposit elektronik yang bisa direfund, tapi hanya karcis kertas.
Begitu masuk ke dalam, kami melihat suasana yang penuh, padat dan ramai. Semakin jauh kami masuk ke dalam, niat kami menikmati liburan di tempat itu semakin pupus. Kolam-kolam yang seharusnya bening jernih tidak lagi demikian. Udara pun tercium aroma tak sedap, mungkin dari keringat, bau makanan, dan entah apa lagi. Begitu banyak orang dan tidak tersedianya tempat duduk yang mencukupi, sehingga banyak yang menggelar tikar/handuk di mana saja. Di berbagai tempat orang makan seenaknya hingga berceceran ke dalam kolam. Melewati tempat ganti baju/kamar mandi tercium bau pesing yang menyengat. Melihat ini semua, saya dan kakak saya sepakat tidak akan menggunakan fasilitas apapun di tempat ini. Anak-anak kami pun, yang tadinya begitu bersemangat mau berenang hanya berdiri tercengang2 melihat sekelilingnya. Tanpa perlu diyakinkan mereka setuju untuk pulang tanpa berenang.
Karena sama sekali tidak menggunakan fasilitas apa pun yang ada, kami meminta refund ke petugas tiket. Permintaan kami ditolak, dengan alasan seharusnya kami melihat situasi dulu sebelum membeli tiket. Hal ini tentunya tidak mungkin, mengingat kami tidak tahu sebesar apa fasilitas yang ada dan berapa orang yang ada di dalam. Seandainya manajemen waterpark peduli kenyamanan pengunjung tentunya akan bersedia menerima resiko pengunjung yang minta refund jika tidak dapat menggunakan fasilitas yang tersedia karena alasan kenyamanan akibat padatnya pengunjung. Di sini pihak manajemen bertindak seolah2 fasilitas yang disediakan tidak memiliki batas tampung pengunjung, dan seenaknya saja menjual tiket dan meraup keuntungan sebanyak2nya tanpa mempedulikan konsumennya.
Kami pun pulang dengan kecewa dan berjanji tidak akan kembali lagi ke The Jungle Water Adventure dan tidak merekomendasikan teman-teman kami ke sana. Uang Rp 300.000 melayang begitu saja. Ternyata bukan kami saja yang kecewa. Setelah berbicara dengan beberapa orang lain yang pernah ke sana, mereka pun punya pengalaman buruk yang serupa, dan tidak berniat untuk kembali ke sana. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran untuk manajemen The Jungle Water Adventure dan pemilik bisnis lainnya agar tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat tanpa etika bisnis dan customer service yang baik.